Sabtu, 13 April 2019

Always Love My Godfather

Fanfiksi, ungkapan cinta untuk godfather Sirius Black.
Disclaimer: Harry Potter milik J. K. Rowling
**    
“Avada Kedavra!”
Kilatan cahaya hijau itu, telak menghantam dadanya. Sirius jatuh, jatuh menembus selubung. Tubuhnya melengkung anggun. Memasuki relung pintu kuno itu, lalu lenyap.
Tidak, tidak sepenuhnya lenyap. Harry berlari mengejar. Di saat seperti ini, mana mungkin ia lepaskan ayah baptisnya begitu saja? Mengabaikan seruan tertahan Lupin dan gemuruh pertempuran di sekitarnya. Semuanya serasa tak penting lagi. Kilatan cahaya merah-hijau, derai tawa Pelahap Maut, pecahan bola kaca ramalan, dan debam tubuh-tubuh yang terjatuh. Demi nama Merlin, semuanya tak penting lagi.
“Sirius!” Harry berteriak.
Ia berharap, sangat berharap walinya bertahan hidup. Seperti dirinya yang berhasil lolos dari kutukan kematian Lord Voldemort enam belas tahun lalu.
**    
Kucinta dirimu
Bagiku kau pahlawan hidupku
Kusayang dirimu
Ku berjanji bahagiakanmu
I love you my daddy
Kau pahlawan hidupku
I love you my daddy...
^Song by Rio, Alvin, Ray, Keke, and Zevana^
**    
Tapi...kegentingan itu telah berlalu. Doa Harry tepat menyentuh langit ketujuh, didengar langsung oleh Tuhan. Kutukan Kematian yang diluncurkan Bellatrix Lestrange tak berhasil membunuh Sirius. Ayah baptisnya selamat!
Mantra penangkal yang manjur. Apakah mantra penangkal itu? Cinta. Ya, cinta. Tiada lain cinta Harry yang teramat kuat untuk Sirius. Seperti cinta Lily yang membuat Harry terselamatkan dari Kutukan Kematian.
Sirius bertahan karena cinta.
Sungguh karena cinta.
Lihatlah, kini Animagus tampan itu terbaring di ruang rawat ST Mungo. Tubuhnya melemah, wajahnya sepucat mayat, tetapi ia hidup. Ia masih di sini. Ia tidak meninggalkan Harry.
Lunaslah janji itu. Janji godfather untuk selalu ada di sisi godson. Akumulasi janji dan kekuatan cinta mempertahankan nyawa Sirius tetap di dalam raga.
“Mana yang sakit?” tanya Harry perlahan.
Tangan kurus itu bergetar menunjuk dadanya. Tempat kutukan itu terhantam. Harry menggenggam tangan Sirius, menguatkannya.
“Semoga sakitnya pindah padaku...”
“Nope...” Sirius menggeleng lemah.
“Big no, son. Cukup aku yang rasakan.”
Sedetik Harry memalingkan wajah. Tidak, ia tidak tega melihat Sirius sakit. Jika diizinkan, biarlah rasa sakit itu pindah ke tubuhnya.
Hening. Tak lama, keheningan itu dipecahkan bunyi jam saku emas milik Harry. Jam itu seperti milik mantan Menteri Sihir, Cornelius Fudge. Fudge telah dilempar dari kursi Menteri sejak kejadian di Departemen Misteri. Dunia sihir menganggapnya tak sanggup mengatasi situasi gelap ini.
“Waktunya minum obat...” gumam Harry.
Sejurus kemudian, ia dorong kursinya ke belakang. Berjalan menyamping ke nakas, mengambil beberapa piala berisi ramuan. Entah apa khasiat obat-obat itu, Harry tak tahu. Dia bukan healer. Tak pernah terlintas di benaknya untuk menjadi Penyembuh.
Dibawanya piala-piala itu ke tepi ranjang. Sirius menolak meminum obatnya.
“Kenapa, Sirius? Ini demi kesembuhanmu...” bujuk Harry.
“Aku tak akan sembuh lagi,” lirih Sirius.
“Kau akan sembuh. Kau harus sembuh.”
Namun, Sirius masih saja menolak. Harry mendesah letih. Mungkin saja ramuannya tak enak. Sampai-sampai Sirius enggan meminumnya.
“Sirius, sakit ada untuk menghargai sehat. Sekaranglah saatnya kesehatan itu diraih dan dihargai...”
“Kau tak tahu rasanya, Harry.”
“Untuk memahami sesuatu, kita tak perlu merasakannya. Kita hanya perlu berempati. Aku sangat, sangat berempati pada...”
“Kau mengasihaniku?”
Harry menggeleng kuat. Sadar betul nada suara Sirius naik satu oktaf.
“Aku tidak mengasihanimu. Aku menyayangimu...sangat menyayangiku. Lebih dari aku menyayangi diriku sendiri, menyayangi Ron dan Hermione.”
Percayalah, itu bukan kebohongan. Kata-kata cinta datang dari hati terdalam. Cinta anak untuk ayahnya.
Sirius adalah sosok pengganti ayah yang sangat sempurna. Sudah berkali-kali dia membuktikan kesetiaannya pada Harry. Dari tempat persembunyiannya yang jauh, Sirius pernah kembali ke Hogsmeade dan bersembunyi di gua agar lebih dekat dengan Harry. Sirius mempertaruhkan segalanya, segalanya, demi Harry.
“Kalau kau menyayangiku, jangan paksa aku minum ramuan itu!” bentak Sirius marah.
“Justru sekaranglah saatnya kubalas semua kasih sayangmu. Aku akan merawatmu, Sirius. Merawatmu sampai kau sembuh. Lalu kita akan tinggal bersama lagi di Grimmauld Place.”
Mendengar itu, Sirius tertawa getir. Sebutir air mata membasahi iris kelabunya. Kegetiran dan air mata berpadu, melagukan mada kepedihan.
“Sembuh? Kau lupa apa kata Penyembuh semalam? Aku...takkan sama lagi.”
Dan...jatuhlah kristal-kristal bening dari matanya. Lebih banyak, lebih banyak lagi. Air mata datang dari hati yang tulus. Hati yang telah lama menderita, hati yang terluka dalam, hati yang tersiksa selama dua belas tahun di dalam penjara dan dua tahun dalam pelarian. Hati yang kesepian karena tak dipercaya banyak orang.
Harry tahu, Sirius pria yang tangguh. Setangguh-tangguhnya  seorang penyihir, ia tetap punya sisi rapuh. Kerapuhan menunjukkan bahwa dirinya masih manusia.
Sepersekian menit kesedihan itu tertumpah. Dada Sirius naik-turun menahan kepedihan. Helaan napasnya memberat. Ia terbatuk. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Sirius muntah darah.
Kepanikan menjalari sekujur tubuh Harry. Tidak, dia harus kuat di depan walinya. Janji telah terpatri kuat di hati untuk merawat Sirius, apa pun yang terjadi.
“Sirius...kaupikir rasa sayangku padamu akan berkurang setelah kondisimu begini?” Harry mendekat, mengusap bercak-bercak darah.
“Tidak.” lanjut Harry, menjawab sendiri pertanyaannya.
“Aku takkan meninggalkanmu...apa pun yang terjadi.”
Ya, itu janjinya. Janji yang sekarang harus ditepati. Harry menghela napas, mengutarakan keputusannya.
“Bila aku harus keluar dari Hogwarts untuk merawatmu, akan kulakukan. Bila peranku memerangi Voldemort harus terhenti, aku takkan keberatan. Kau lebih penting. Kau segalanya bagiku. Hanya kau satu-satunya keluarga yang kumiliki.”
Kepala Sirius tertunduk dalam. Wajah tegarnya berubah sendu. Ada luka di sana, ada pedih yang membayangi.
“Dunia sihir membutuhkanmu, Harry. Kau Sang Terpilih. Egois sekali jika aku memaksamu tetap bertahan di sini untuk merawatku...”
“Aku tak peduli.” sela Harry.
“Biarlah dunia sihir dan seisinya runtuh, asalkan aku masih bisa bersamamu. Aku akan merawatmu sebisaku.”
**    
Untaian kabut tebal melayang-layang di luar sana. Seluruh kota London gelap dan suram. Kabut dingin, di bulan Juli. Tekanan, kesedihan, dan depresi melanda. Semuanya gegara Dementor. Iblis pengisap kebahagiaan yang membelot dari Kementerian Sihir dan bergabung dengan Voldemort. Dulu, setan-setan berkeropeng itu menjaga tempat dimana Sirius menderita.
Teringat Sirius, tekadnya menguat. Malam membubung. Sirius telah jatuh tertidur. Harry meraih sehelai perkamen, sebotol tinta, dan sebatang pena-bulu. Dicelupkannya pena-bulu ke botol tinta, lalu dia mulai menulis.
Menit-menit berlalu lambat. Surat itu selesai. Tersenyum puas, Harry berjalan ke pelataran rumah sakit. Ia memanggil Hedwig, burung hantu cantik yang tak pernah gagal mengantarkan surat.
“Ini untuk Profesor Dumbledore, ok?” ucap Harry.
Hedwig ber-uhu sekali, mematuk sayang tangan Harry, lalu terbang pergi. Sehelai surat terikat di kakinya.
Keputusannya sudah bulat. Harry berbalik, kembali ke kamar rawat Sirius.
“Sirius...Snuffles...Padfoot, I love you.”
**   
Dear Profesor Dumbledore,
Bersama surat ini, saya, Harry James Potter, menyatakan diri keluar dari Hogwarts. Saya takkan melanjutkan dua tahun pendidikan sihir yang tersisa, dikarenakan saya harus merawat satu-satunya keluarga yang masih saya miliki. Segala urusan yang terkait dengan administrasi dan pengunduran diri akan segera dibereskan.

Salam hormat,

Harry James Potter

Senin, 28 Januari 2019

Surat untuk Allah yang Selalu Punya Waktu

Dear Allah,
Allah Yang Maha Cinta, kutahu Engkau selalu punya waktu untukku. Bukan hanya untukku, tapi waktu untuk seluruh makhluk ciptaanMu di alam raya dan langit.
Aku ingin konseling padaMu, ya Rabb. Dari pada ke psikolog, aku titipkan saja keluhanku padaMu.
Ya, Allah, kau tahu? Akhirnya pintu di RRI tertutup untukku. Sandiwara radio itu gagal dengan diplomasi yang memuakkan. Berputar-putar dan terlalu panjang.
Sedih? Sangat. Bukan karena harapanku terlalu tinggi, tapi karena mereka menghempaskanku. Mereka sendiri yang menawarkan, tapi mereka juga yang membantingku. Itu rasanya sakit.
The door closed.
Aku sedih. Sepertinya tak ada lagi pintu yang kan terbuka untukku.
Aku juga takut, ya Allah. Aku sering mengkhawatirkan malaikat tampan bermata sipitku. Rasanya dia begitu jauh dariku. Diriku takut kehilangannya.
Serasa aku teramat jauh dengannya. Padahal aku ingin dekat. Tentu Kau mengerti maksudku, ya Allah.
Bukan perbedaan rentang usia yang kupermasalahkan. Tapi perbedaan jalan. Aku masih berbeda jalan dengannya. Aku takut hanya dipertemukan dengannya di dunia. Aku ingin dipertemukan lagi bersamanya di akhirat. Tapi mungkinkah...?
Aku tak berani berharap, ya Allah ya Latif. Aku tak berani menaruh harapan pada pria yang seluruh hidupnya berputar pada keluarga intinya saja. Percuma, Ya Latif. Percuma. Aku hanya bisa begini. Menyepi dan menitipkannya padaMu.
Ya Allah, ya Jabar, aku mau jujur padaMu. Aku cemburu, cemburu sekali pada kakaknya. Bisa-bisanya aku kalah dengan perempuan yang sangat biasa dan tidak cantik. Mengapakah semua yang terbaik belum tentu jadi pemenang?
Diri ini sudah lelah dijegal. Di RRI, ada pria baik tapi dikelilingi wanita-wanita buruk. Mungkin juga malaikat tampan bermata sipitku begitu. Aku tak mudah percaya orang sebelum benar-benar mengenalnya.
Hatiku didera pesimistis, ya Allah. Pesimistis tentang rangkaian impianku ingin mengadaptasi karyaku ke dalam bentuk film. Semua pintu seolah tertutup rapat untukku.
Aku merasa semuanya sia-sia, Ya Qudus. Aku merasa Tahajud-tahajudku di sepertiga malam, memberi makan orang miskin tiap hari sia-sia saja di mataMu. Maaf ya Allah, aku terlalu banyak mengeluh.
Oh ya, aku juga takut my Ronald Wan dikremasi. Aku tak rela bila orang yang kucintai, salah satu malaikat hidupku, berakhir menjadi abu. Aku takut. Ini bagian dari rasa takut kehilangan.
Ketakutanku akan kehilangan dirinya teramat besar. Disusul gelembung balon kesepian. Aku benar-benar didera ketakutan besar. Sulit, sulit bagiku mengatur pikiran. Bayangan tentang mutasi gen kanker, rasa sakit, dan kehilangan malaikatku berkelebatan di pikiran. Sering aku berpikir. Lebih baik aku berumur pendek dari pada kehilangan kekasihku.
Ya, Allah, aku takut kehilangannya di tengah perjalanan waktu. Aku takut kesehatannya tergerus usia. Sungguh, aku takut.
Ku teringat kisah nabi Yusuf. Nabi Yaqub berkata bahwa Engkaulah penjaga terbaik. Voila, Nabi Yusuf dikembalikan pada Yaqub. Maka, saksikanlah doaku: aku titipkan orang-orang yang kucintai padaMu, ya Allah. Kumohon jagalah mereka. Berikan untukku bila waktunya tepat.
Aku tak berani berharap apa pun. Kecurigaan tumbuh di hatiku. Keluarganya terlalu ikut campur urusan hidupnya, mengekangnya, dan mencegahnya bersatu denganku. Bila kecurigaanku benar, lebih dalam luka hatiku.
Aku memang tidak pantas diterima dalam keluarga mana pun. Memang berbahaya bila pria teerlalu dicampuri urusan hidupnya oleh keluarga, terutama ibunya. Terlebih si pria sudah lebih dari dewasa untuk membangun hidupnya dan cabang keluarganya sendiri. Itu yang kusedihkan dan kutakutkan.
With love,

Young Lady cantik bermata biru

Rabu, 09 Januari 2019

Sebuah Surat untuk Allah: Dear My Allah

Dear Allah,
Ya, Allah, Engkau tentunya tahu. Di hatiku  tak ada cinta untuk Abi Assegaf, seperti rasaku pada Ronny. Tapi aku hanya menyayanginya sebagai ayahku. Salahkah bila aku membelanya, Ya Allah? When I stand up for him, I get a risk.
Aku takut sandiwara radionya batal, ya Allah. Sering kudengar sesuatu yang besar batal hanya karena kesalahan kecil. Aku takut, takut sekali.
Ya, Allah, salahkah bila kita membela seseorang dari sesuatu yang tidak baik? Sudah tiga kali aku membela Abi. Pertama, ketika dia di-body shaming soal rambutnya yang hilang. Kedua, aku membela Abi dari bullying karena pernikahannya yang sangat terlambat. Ketiga, yang sekarang ini. Ketika orang-orang meragukan kemampuan Abi. Aku ingin memperjuangkan rezeki Abi sebagai pemeran utama.
Salahkah ya Allah? Mataku sakit, ya Allah. Hatiku pedih. Aku takut gagal.
Who want to stand up for me?
Sayang orang lain terus, adakah yang menyayangiku?
Ya, Allah, mengapa rasanya banyak sekali cobaan untuk melangkah ke situ?
Aku sedih, sedih sekali.
Katanya, aku terlalu baik.
Ya, Allah Yang Maha Cinta, benarkah aku terlalu bodoh, terlalu baik, terlalu mudah dimanfaatkan?
Ya, Allah, mengapa tiap kali aku mengingat Abi, aku teringat ketakutanku tentang Ronny? Aku takut Ronny sakit kanker...entah kenapa. Walau ketakutan itu sangat tidak baik.
Ya, Allah, aku takut keluarganya menahan Ronny, bahkan melarangnya, untuk bersamaku. Aku takut. Mengapa segalanya masih berliku dan penuh keterbatasan?
Ya, Allah, aku tak mudah percaya manusia. Apa lagi manusia yang belum kukenal. Aku tidak tahu harus menitipkan sedih ini pada siapa selain padaMu.


Dear Allah, Sebuah Surat untuk Allah

Kini aku tiba di satu titik dimana aku ingin menulis surat pada Allah. Menceritakan isi hatiku, saat siklus kewanitaan menghalangi ibadah. Aku ingin sekali menulis surat untuk my Allah.

Rabu, 05 Oktober 2016

Saat Emosi Membebani: Ungkapkan Atau Diam?

Salahkah bila anak mengungkapkan isi hatinya pada orang tua? Salahkah bila seorang gadis mengungkapkan perasaan kecewa pada pemuda yang dicintainya?
Itulah dua pertanyaan besar yang masih mengganggu pikiran saya. Bagaimana tidak, saya harus berpikir ratusan kali apakah mengatakan saja hasrat hati saya atau lebih baik diam dan menyimpannya sendiri.
Beberapa jam lalu, saya sempat mengungkapkan salah satu hasrat hati saya yang terbesar pada keluarga. Efeknya sudah dapat diduga: respon negatif. Mereka marah dan melabeli pribadi saya secara negatif. Lagi-lagi mereka mengungkit seputar masa lalu. Mereka malah sempat memberikan ultimatum. Nada bicara mereka intimidatif.
Saya pun menyerah dan memutuskan tidak pernah lagi mengatakan apa pun yang menjadi hasrat terdalam di hati saya. Lebih baik saya simpan dan kelak saya wujudkan sendiri. Butuh waktu sekitar dua jam bagi saya untuk menenangkan diri dan menetralisir rasa sakit hati yang muncul.
Kasus ini bukannya baru satu-dua kali terjadi. Melainkan sudah sering saya alami. Tak sedikit pula anak-anak yang mengalaminya dalam keluarga. Ada rasa takut mengungkapkan keinginan, hasrat hati, perasaan, mengeluarkan pendapat, menanggapi permasalahan, dan sebagainya. Risiko kemarahan dan respon negatif terlalu besar. Maka jalan satu-satunya adalah tetap diam dan memendamnya sendiri.
Terkadang, anak merasakan sikap orang tua begitu keras dan tidak toleran. Orang tua tidak memahami perasaan mereka. Orang tua tidak mengerti passion, ekspektasi, ambisi, dan perasaan mereka. Menurut orang tua, pilihan mereka adalah pilihan yang terbaik. Sementara anak dilarang menentukan pilihan hidupnya sendiri. Bukankah yang menjalani semuanya adalah anak itu sendiri? Bagaimana jika si anak merasa berat dengan pilihan orang tuanya? Bagaimana jika si anak mempunyai idealisme dan pandangan lain atas suatu pilihan?
Tidak sedikit pula anak yang memiliki harapan tertentu pada sikap orang tuanya. Ada beberapa poin dalam sikap dan perlakuan orang tua yang tidak sejalan dengan karakter mereka. Bagi orang tua yang demokratis dan terbuka pada kritik serta saran, hal ini mungkin mudah. Tapi bagaimana dengan orang tua yang otoriter dan tidak bisa menerima pendapat dari anak? Ini akan menyulitkan. Anak akan selamanya merasakan betapa tidak enaknya sikap-sikap orang tua yang berada di luar harapan mereka.
Anak yang awalnya terbuka bisa menjadi tertutup lantaran menerima reaksi negatif dari orang tuanya. Reaksi negatif itu bermacam-macam, bisa berupa perlakuan kasar, hardikan, atau label negatif. Akibatnya, anak akan lebih memilih diam dan menutup diri. Menyembunyikan perasaan, menumpuknya di dalam hati, dan risiko terparah adalah keinginan kuat untuk memberontak. Anak yang pendiam justru lebih sulit ditebak. Bisa saja mereka berpotensi untuk memberontak dan melakukan hal-hal tak terduga. Wajar bila banyak anak yang lebih mempercayakan isi hati pada teman-temannya dibandingkan pada orang tuanya.
Kasus memendam emosi tidak hanya antara anak dengan orang tua. Melainkan bisa terjadi pada semua orang. Saya pribadi pun tidak hanya memendam rasa pada orang tua dan keluarga. Saya merasa kecewa pada seseorang, namun lebih baik saya pendam. Semua ini demi menjaga perasaannya dan menghindari pertengkaran.
Sebenarnya, saya lebih suka terbuka. Mudah bagi saya mengekspresikan perasaan. Namun saya melihat situasi dan kondisinya. Saya rasa, momen dan waktunya kurang tepat. Saya pun tidak ingin terjadi pertengkaran. Bisa-bisa nanti dia marah dan meninggalkan saya. Meski dapat saya rasakan kecewa ini semakin lama semakin dalam, saya mencoba sabar dan bertahan.
Banyak faktor yang membuat seseorang memendam emosinya. Pertama, karena takut menerima respon negatif. Kedua, khawatir mendapat kritikan. Ketiga, takut orang-orang di sekitarnya tidak bisa menerima perilakunya. Keempat, tidak ingin mencari masalah. Kelima, tidak ingin membesar-besarkan masalah.
Dari sisi psikologis dan kesehatan, memendam emosi berdampak negatif. Seseorang rentan mengalami stress dan Psikosomatis jika terlalu banyak menumpuk masalah. Depresi dan ketegangan menjadi dampak lainnya yang tidak kalah menakutkan.
Irma Rahayu, Soul Healer dari Emotional Healing Indonesia, menyebutkan beberapa dampak negatif dari memendam emosi. Di antaranya sistem kekebalan tubuh menurun, pernafasan tidak teratur, depresi, dan penuaan dini. Penyakit-penyakit yang berisiko diderita orang yang suka memendam emosi antara lain:
1. Alergi, penyebabnya penyangkalan pada kekuatan dan potensi diri.
2. Radang sendi, sebab perasaan tidak dicintai, ditolak, dan perasaan dikorbankan.
3. Demam, pemicunya karena rasa marah yang tidak diekspresikan.
4. Penyakit ginjal, disebabkan oleh perasaan gagal, rasa malu yang ditekan, dan kekecewaan.
5. Gastritis, penyebabnya karena rasa takut, kecemasan, dan ketidakpuasan pada diri sendiri.
6. Sakit pinggang, pemicunya adalah rasa tidak dicintai dan kekurangan kasih sayang.
7. Penyakit jantung, faktor utamanya karena rasa kesepian, rasa takut akan kegagalan, dan kemarahan.
8. Penyakit paru-paru, penyebabnya adalah rasa putus asa, lelah secara emosional, dan luka batin.
9. Kanker, penyebab utamanya adalah kebencian dan dendam.
10. Diabetes, sebab ada rasa keras kepala dan penolakan untuk disalahkan.
Dengan banyaknya risiko yang ditimbulkan akibat memendam emosi, manakah yang akan kita pilih? Tetap diam atau mengungkapkannya?
Bila pun kita tidak bisa mengungkapkannya secara maksimal, ada beberapa cara agar perasaan kita lebih tenang.
1. Mencari waktu dan ruang untuk sendiri
Bukan hanya Tulus yang butuh Ruang Sendiri, kita pun memerlukannya. Saat kita sendiri, kita bisa menenangkan diri dan melepaskan segala emosi yang berkecamuk dalam hati. Kita juga bisa melakukan self-talk (dialog pada diri sendiri) guna evaluasi, introspeksi, dan memperbaiki apa yang salah dari diri kita.
2. Curhat pada orang-orang yang bisa dipercaya
Saya pribadi suka opsi yang kedua ini. Carilah orang-orang terdekat. Bisa teman, sahabat, guru, dosen, psikolog, terapyst, konselor, atau seseorang yang dengan kata lain telah membuka kunci hati kita (seperti yang dikatakan Afgan dalam lagunya). Lalu kita utarakan emosi dan isi hati kita. Berbicara dengan mereka sedikit-banyak dapat melepaskan beban dan melegakan perasaan.
3. Menulis diary
Walau pun kesannya sudah bukan trend lagi, tak ada salahnya dicoba. Terkadang saya suka melakukannya. Terlebih hadirnya perangkat teknologi makin memudahkan saya. Saya bisa menuliskan apa saja di diary. Tak ada yang perlu ditutupi.
Dengan menulis, kita bisa mengekspresikan perasaan. Kita bisa mentransliterasikan emosi negatif ke dalam kata-kata.
4. Mencari mood buster
Tiap orang memiliki cara masing-masing untuk memperbaiki mood. Ada yang suka mengkonsumsi coklat dan es krim, traveling, hunting foto, membaca buku, mendengarkan musik, menonton film, shopping, dan berbagai aktivitas lainnya. Saya sendiri lebih memilih menyetel musik favorit saya sekeras-kerasnya, menyanyi sambil bermain piano, menyendiri, makan makanan favorit saya, atau memeluk boneka berbentuk kepala Hello Kitty saat saya ingin memperbaiki mood. Dengan mood yang baik, otomatis emosi negatif akan berkurang. Perasaan kita akan kembali netral meski sifatnya temporer. Menjaga mood tetap baik, itulah yang perlu dilakukan.
5. Memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri pada Tuhan
Saat kita jauh dari orang-orang terdekat, saat tak ada satu pun yang memahami kita, Tuhan akan selalu ada. Tuhan selalu memahami hamba-hamba-Nya. Tuhan memahami dan mengerti kesulitan kita. Jangan ragu meningkatkan komunikasi transendental kita pada Sang Pencipta. Tuhan sudah memiliki rencana yang terbaik untuk kita. Tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Berdoalah, memohonlah dengan sungguh-sungguh maka pintu kebahagiaan akan terbuka. Bukankah bila Tuhan berkata ‘kun fayakun’ maka akan terjadi? Apa yang tak mungkin menjadi mungkin? Dan bukankah semua ada waktunya? Sekarang kita mungkin terjebak dalam kesedihan dan keputusasaan. Tetapi nanti, kita akan mendapat anugerah yang luar biasa. Jalani dulu prosesnya, lalu kita akan merasakan hasilnya.
Pada orang tua saya, ingin saya ungkapkan bahwa saya tak ingin menjadi dosen seperti yang kalian harapkan. Saya ingin melangkah pada jalan yang saya cita-citakan dan sedang saya rintis: menjadi psikolog, terapyst, dan praktisi kesehatan. Bila kalian melabeli saya arogan dan setengah-setengah, saya terima. Namun label dari kalian akan membekas selamanya di memori saya. Allah lebih tahu, Allah yang paling tahu. Saya yang menjalani, bukan kalian. Jika kalian tak terima, saya lebih tak terima lagi ketika kalian setuju saat mobil itu dibawa kakak saya. Bukankah waktu itu tak satu pun yang mau repot-repot bertanya pendapat saya? Seakan takdir saya memang untuk mendengarkan orang lain, bukan untuk didengarkan orang lain.

Dan kepada dia yang diri dan waktu saya telah jadi miliknya, saya mengaku bila saya kecewa. Saya selalu ada untuk kamu, sesibuk apa pun saya. Kamu tak bisa selalu ada untuk saya. Waktu selalu saya coba sisihkan untuk kamu, tapi kamu tak pernah bisa menyisihkan waktu untuk saya. Padahal aktivitas, kesibukan, dan tugas saya cukup banyak. Saya selalu mengerti perasaan kamu, tapi kamu tak mengerti perasaan saya. Saya sering bertanya kepadamu, tapi kamu sering mengelak. Saya sering minta pendapat kamu terkait project yang ingin saya kerjakan, tapi kamu justru sibuk berbicara tentang tesismu tanpa pernah menjawab pertanyaan saya. Lalu setelah tesismu selesai nanti, apa lagi? Mungkin kamu akan meninggalkan saya dan lebih tidak peduli pada saya? Setelah tesismu selesai, kamu lulus, dan cita-citamu tercapai, lalu apa lagi sesudahnya? Kamu mau pergi tanpa memikirkan perasaan saya sedikit pun? Saya mengalami sendiri pernyataan Yura Yunita dalam single terbarunya, Intuisi. Saya selalu peduli padamu, tapi kamu tidak peduli pada saya. Kamu tidak mengerti jika saya juga membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu, tidak hanya kamu yang selalu saya curahi perhatian dan kasih sayang. Ada saat-saat saya rapuh, terluka, dan memerlukan seseorang. Ada saat saya kesepian dan tidak berdaya untuk membunuh kesepian itu karena semua orang tak memahami saya. Tapi kamu pun tidak tahu dan tidak mau peduli. Kamu mengulang-ulang kesalahan yang sama, selalu saya maafkan. Saya sering berkorban waktu untuk kamu, tapi kamu tidak pernah mau melakukannya demi saya. Kamu biarkan saya sendirian dan kesepian. Semoga Allah membuka mata hatimu, Dear.

Minggu, 26 Juni 2016

Sayang, Maaf Ayah Tidak Sempurna

Adriana melangkah tergesa memasuki rumah. Melempar tas dan sepatunya. Dua benda mahal itu terlempar ke karpet. Ia lalu membanting tubuhnya di sofa. Tersedu. Bulir-bulir air mata berjatuhan membasahi pipi.
“Sayang, ada apa? Lho...kamu menangis?”
Andini, sang Bunda, membuka pintu ruang tamu. Berseru cemas mendapati putri semata wayangnya menangis.
“What’s wrong, Dear?” tanya Andini lembut seraya mengusap rambut Adriana.
“Bunda, apa benar Ayah sakit keras? Apa benar Ayah akan meninggal?” Adriana balik bertanya. Suaranya bergetar, tertelan isak.
Mendengar pertanyaan itu, Andini menghela nafas. Hatinya serasa memberat oleh kenyataan pilu.
“Adriana tahu dari mana?”
“Dari Ernest. Kata Mamanya Ernest, Ayah sakit keras. Ayah nggak akan lama lagi sama kita, Bunda.” jelas Adriana.
Ternyata Ernest yang memberi tahu putri kecilnya. Andini tak tahu bagaimana itu semua bisa terjadi. Arina, Mama Ernest, memang seorang dokter spesialis Onkologi. Dialah dokter pribadi Albert, suami Andini, sejak beberapa tahun terakhir. Ya Allah, dengan cara apa ia mesti menjelaskan segalanya pada Adriana? Ia yakin, Albert pun belum mempersiapkan cara jika sewaktu-waktu Adriana tahu tentang kondisinya.
Suara isak tangis Adriana memecah lamunan Andini. Lembut didekapnya kanak-kanak delapan tahun itu. Diusap rambut panjangnya. Dicium keningnya beberapa kali.
“Sayang...Bunda dan Ayah akan jawab pertanyaan Adriana. Tapi nanti, habis buka puasa ya? Toh Ayah juga belum pulang dari kantor. Sekarang Adriana tenang dulu, oke?” hibur Andini.
**   
Fortuner silver itu menepi di halaman rumah. Seorang pria tampan berpostur tinggi dan berjas hitam turun dari mobil. Tak dapat disamarkan ekspresi kesakitan di wajahnya. Beberapa kali ia terhuyung nyaris jatuh. Anak-anak tangga di depan teras dinaikinya. Dapat ia lihat sesosok wanita cantik menanti di sana.
“Assalamualaikum, Andini.” Pria itu tersenyum, mengecup pipi istrinya.
Andini balas tersenyum dan mengecup pipi sang suami. “Waalaikumsalam, Albert.”
“Dimana Adriana?”
Mendengar Albert menyebut nama buah hati mereka, senyum Andini sedikit memudar. Albert langsung menangkap perubahan wajah wanitanya.
“Ada apa, Andini?”
“Adriana...sudah tahu kalau kamu sakit Leukemia.”
Albert terperangah. “Bagaimana dia bisa tahu?”
“Ernest yang cerita. Aku juga tidak tahu bagaimana awalnya. Tapi...”
Kalimat Andini menggantung di udara. Wajah cantiknya seketika kembali sendu. Matanya berkaca-kaca.
Albert menarik nafas panjang. Meraih tubuh Andini. Memeluknya hangat. Andini terenyak. Selalu hangat dan nyaman tiap kali suaminya memeluknya seperti ini. Harum Calvin Klein dari tubuh Albert menyejukkan indera penciumannya.
“Jangan khawatir, Andini. Aku akan jelaskan semuanya pada Adriana.” Albert berkata menenangkan.
“Kenapa harus kamu, Albert? Kenapa harus kamu yang menanggung semua ini? Pria baik sepertimu tak pantas menerimanya.” Andini terisak.
“Andini, aku...”
Tes. Tes.
Tetesan darah segar terjatuh dari hidung Albert. Andini tersentak, cepat-cepat melepas pelukan Albert. Membantu membersihkan dan menghentikan aliran darah.
“Ya Allah...apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja?” gumam Andini.
“Tidak usah, Andini. Aku ingin menghabiskan sisa hari ini bersama kau dan Adriana. Di sini, bukan di rumah sakit.” tolak Albert halus.
Tak kuasa Andini mendebat. Ia hanya berharap Albert baik-baik saja. Pria baik hati itu sudah terlalu banyak menderita dan merasakan sakit.
**   
“Hey Sayang...lagi nulis apa?”
Albert memasuki kamar bernuansa soft pink itu. Mendekati Adriana yang sedang duduk di depan meja belajar. Mengguratkan pensil dengan cermat di buku catatannya.
Adriana berbalik. Melompat dari kursi dan memeluk erat ayahnya. Menghadiahinya kecupan hangat di pipi seperti biasa.
“Adriana habis bikin PR, Ayah.”
“Sudah selesai? Atau mau Ayah bantu?” tawar Albert.
Murid Al Irsyad Satya Islamic School itu menggelengkan kepala. “Sudah selesai, Ayah.”
“Pintar...” Albert memuji, mendaratkan belaian hangat di rambut putrinya.
Sesaat hening. Hanya terdengar desis AC di kamar itu.
“Adriana kenapa? Dari tadi Ayah perhatiin kayaknya Adriana sedih banget. Coba cerita sama Ayah...”
“Hmm...tadi Ernest cerita sama Adriana.” Anak kecil itu mulai mengungkapkan isi hatinya.
“Cerita apa?”
“Katanya, Ayah sakit. Sakitnya parah banget. Kanker darah. Bentar lagi Ayah meninggal.”
Albert mengangguk paham. Meneruskan membelai-belai rambut Adriana.
“Adriana sedih. Adriana nggak mau Ayah sakit. Ayah...Ayah yang baik banget masa dikasih penyakit sama Allah?”
Suara Adriana mengecil lalu menghilang. Tak tampak lagi air mata. Namun raut wajahnya menampakkan kesedihan mendalam.
“Maaf Sayang, Ayah tidak sempurna. Beda sama ayah teman-temannya Adriana. Tapi Adriana harus tahu satu hal: Ayah sayang banget sama Adriana.” ujar Albert lembut.
“Iya Ayah, Adriana juga sayang sama Ayah.”
Dalam gerakan slow motion, Albert memeluk Adriana. Membuainya pelan.
“Adriana masih ingat nggak, apa yang dibilang Ustaz Rizal pas Tarawih kemarin malam?” Albert menguji ingatan permata hatinya. “Ingat, Ayah.”
“Apa coba?”
“Kata Ustaz Rizal, takdir ada di tangan Allah. Rezeki, jodoh, kematian, udah ditentuin sama Allah.”
“Benar Adriana, pintar sekali anak Ayah. Allah selalu sayang sama hamba-Nya. Allah tahu mana yang terbaik buat kita semua. Semua yang ditentukan Allah buat kita jadi yang terbaik. Makanya, kita harus ikhlas pada setiap takdir Allah. Ayah ikhlas kok kena kanker darah. Ayah nggak keberatan harus rasain sakit.”
“Tapi Ayah...”
“Kalo kita ikhlas, insya Allah nggak akan terasa berat dan sakitnya. Dari pada kita terus mengeluh dan menyesali diri, lebih baik kita ikhlas. Hati lebih ringan, perasaan bahagia, dan tubuh kita lebih sehat. Karena apa? Karena ada energi positif yang membantu menyehatkan kita. Adriana paham?”
Kata demi kata terserap dalam benak Adriana. Gadis cerdas ini meresapinya, memahaminya dalam-dalam. Perlahan ia mengangguk. Bibirnya mengguratkan senyum.

“Iya, Ayah. Adriana mau ikhlas kayak Ayah. Adriana pasti dampingin Ayah terus. Karena Adriana sayang Ayah.”