Sabtu, 13 April 2019

Always Love My Godfather

Fanfiksi, ungkapan cinta untuk godfather Sirius Black.
Disclaimer: Harry Potter milik J. K. Rowling
**    
“Avada Kedavra!”
Kilatan cahaya hijau itu, telak menghantam dadanya. Sirius jatuh, jatuh menembus selubung. Tubuhnya melengkung anggun. Memasuki relung pintu kuno itu, lalu lenyap.
Tidak, tidak sepenuhnya lenyap. Harry berlari mengejar. Di saat seperti ini, mana mungkin ia lepaskan ayah baptisnya begitu saja? Mengabaikan seruan tertahan Lupin dan gemuruh pertempuran di sekitarnya. Semuanya serasa tak penting lagi. Kilatan cahaya merah-hijau, derai tawa Pelahap Maut, pecahan bola kaca ramalan, dan debam tubuh-tubuh yang terjatuh. Demi nama Merlin, semuanya tak penting lagi.
“Sirius!” Harry berteriak.
Ia berharap, sangat berharap walinya bertahan hidup. Seperti dirinya yang berhasil lolos dari kutukan kematian Lord Voldemort enam belas tahun lalu.
**    
Kucinta dirimu
Bagiku kau pahlawan hidupku
Kusayang dirimu
Ku berjanji bahagiakanmu
I love you my daddy
Kau pahlawan hidupku
I love you my daddy...
^Song by Rio, Alvin, Ray, Keke, and Zevana^
**    
Tapi...kegentingan itu telah berlalu. Doa Harry tepat menyentuh langit ketujuh, didengar langsung oleh Tuhan. Kutukan Kematian yang diluncurkan Bellatrix Lestrange tak berhasil membunuh Sirius. Ayah baptisnya selamat!
Mantra penangkal yang manjur. Apakah mantra penangkal itu? Cinta. Ya, cinta. Tiada lain cinta Harry yang teramat kuat untuk Sirius. Seperti cinta Lily yang membuat Harry terselamatkan dari Kutukan Kematian.
Sirius bertahan karena cinta.
Sungguh karena cinta.
Lihatlah, kini Animagus tampan itu terbaring di ruang rawat ST Mungo. Tubuhnya melemah, wajahnya sepucat mayat, tetapi ia hidup. Ia masih di sini. Ia tidak meninggalkan Harry.
Lunaslah janji itu. Janji godfather untuk selalu ada di sisi godson. Akumulasi janji dan kekuatan cinta mempertahankan nyawa Sirius tetap di dalam raga.
“Mana yang sakit?” tanya Harry perlahan.
Tangan kurus itu bergetar menunjuk dadanya. Tempat kutukan itu terhantam. Harry menggenggam tangan Sirius, menguatkannya.
“Semoga sakitnya pindah padaku...”
“Nope...” Sirius menggeleng lemah.
“Big no, son. Cukup aku yang rasakan.”
Sedetik Harry memalingkan wajah. Tidak, ia tidak tega melihat Sirius sakit. Jika diizinkan, biarlah rasa sakit itu pindah ke tubuhnya.
Hening. Tak lama, keheningan itu dipecahkan bunyi jam saku emas milik Harry. Jam itu seperti milik mantan Menteri Sihir, Cornelius Fudge. Fudge telah dilempar dari kursi Menteri sejak kejadian di Departemen Misteri. Dunia sihir menganggapnya tak sanggup mengatasi situasi gelap ini.
“Waktunya minum obat...” gumam Harry.
Sejurus kemudian, ia dorong kursinya ke belakang. Berjalan menyamping ke nakas, mengambil beberapa piala berisi ramuan. Entah apa khasiat obat-obat itu, Harry tak tahu. Dia bukan healer. Tak pernah terlintas di benaknya untuk menjadi Penyembuh.
Dibawanya piala-piala itu ke tepi ranjang. Sirius menolak meminum obatnya.
“Kenapa, Sirius? Ini demi kesembuhanmu...” bujuk Harry.
“Aku tak akan sembuh lagi,” lirih Sirius.
“Kau akan sembuh. Kau harus sembuh.”
Namun, Sirius masih saja menolak. Harry mendesah letih. Mungkin saja ramuannya tak enak. Sampai-sampai Sirius enggan meminumnya.
“Sirius, sakit ada untuk menghargai sehat. Sekaranglah saatnya kesehatan itu diraih dan dihargai...”
“Kau tak tahu rasanya, Harry.”
“Untuk memahami sesuatu, kita tak perlu merasakannya. Kita hanya perlu berempati. Aku sangat, sangat berempati pada...”
“Kau mengasihaniku?”
Harry menggeleng kuat. Sadar betul nada suara Sirius naik satu oktaf.
“Aku tidak mengasihanimu. Aku menyayangimu...sangat menyayangiku. Lebih dari aku menyayangi diriku sendiri, menyayangi Ron dan Hermione.”
Percayalah, itu bukan kebohongan. Kata-kata cinta datang dari hati terdalam. Cinta anak untuk ayahnya.
Sirius adalah sosok pengganti ayah yang sangat sempurna. Sudah berkali-kali dia membuktikan kesetiaannya pada Harry. Dari tempat persembunyiannya yang jauh, Sirius pernah kembali ke Hogsmeade dan bersembunyi di gua agar lebih dekat dengan Harry. Sirius mempertaruhkan segalanya, segalanya, demi Harry.
“Kalau kau menyayangiku, jangan paksa aku minum ramuan itu!” bentak Sirius marah.
“Justru sekaranglah saatnya kubalas semua kasih sayangmu. Aku akan merawatmu, Sirius. Merawatmu sampai kau sembuh. Lalu kita akan tinggal bersama lagi di Grimmauld Place.”
Mendengar itu, Sirius tertawa getir. Sebutir air mata membasahi iris kelabunya. Kegetiran dan air mata berpadu, melagukan mada kepedihan.
“Sembuh? Kau lupa apa kata Penyembuh semalam? Aku...takkan sama lagi.”
Dan...jatuhlah kristal-kristal bening dari matanya. Lebih banyak, lebih banyak lagi. Air mata datang dari hati yang tulus. Hati yang telah lama menderita, hati yang terluka dalam, hati yang tersiksa selama dua belas tahun di dalam penjara dan dua tahun dalam pelarian. Hati yang kesepian karena tak dipercaya banyak orang.
Harry tahu, Sirius pria yang tangguh. Setangguh-tangguhnya  seorang penyihir, ia tetap punya sisi rapuh. Kerapuhan menunjukkan bahwa dirinya masih manusia.
Sepersekian menit kesedihan itu tertumpah. Dada Sirius naik-turun menahan kepedihan. Helaan napasnya memberat. Ia terbatuk. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Sirius muntah darah.
Kepanikan menjalari sekujur tubuh Harry. Tidak, dia harus kuat di depan walinya. Janji telah terpatri kuat di hati untuk merawat Sirius, apa pun yang terjadi.
“Sirius...kaupikir rasa sayangku padamu akan berkurang setelah kondisimu begini?” Harry mendekat, mengusap bercak-bercak darah.
“Tidak.” lanjut Harry, menjawab sendiri pertanyaannya.
“Aku takkan meninggalkanmu...apa pun yang terjadi.”
Ya, itu janjinya. Janji yang sekarang harus ditepati. Harry menghela napas, mengutarakan keputusannya.
“Bila aku harus keluar dari Hogwarts untuk merawatmu, akan kulakukan. Bila peranku memerangi Voldemort harus terhenti, aku takkan keberatan. Kau lebih penting. Kau segalanya bagiku. Hanya kau satu-satunya keluarga yang kumiliki.”
Kepala Sirius tertunduk dalam. Wajah tegarnya berubah sendu. Ada luka di sana, ada pedih yang membayangi.
“Dunia sihir membutuhkanmu, Harry. Kau Sang Terpilih. Egois sekali jika aku memaksamu tetap bertahan di sini untuk merawatku...”
“Aku tak peduli.” sela Harry.
“Biarlah dunia sihir dan seisinya runtuh, asalkan aku masih bisa bersamamu. Aku akan merawatmu sebisaku.”
**    
Untaian kabut tebal melayang-layang di luar sana. Seluruh kota London gelap dan suram. Kabut dingin, di bulan Juli. Tekanan, kesedihan, dan depresi melanda. Semuanya gegara Dementor. Iblis pengisap kebahagiaan yang membelot dari Kementerian Sihir dan bergabung dengan Voldemort. Dulu, setan-setan berkeropeng itu menjaga tempat dimana Sirius menderita.
Teringat Sirius, tekadnya menguat. Malam membubung. Sirius telah jatuh tertidur. Harry meraih sehelai perkamen, sebotol tinta, dan sebatang pena-bulu. Dicelupkannya pena-bulu ke botol tinta, lalu dia mulai menulis.
Menit-menit berlalu lambat. Surat itu selesai. Tersenyum puas, Harry berjalan ke pelataran rumah sakit. Ia memanggil Hedwig, burung hantu cantik yang tak pernah gagal mengantarkan surat.
“Ini untuk Profesor Dumbledore, ok?” ucap Harry.
Hedwig ber-uhu sekali, mematuk sayang tangan Harry, lalu terbang pergi. Sehelai surat terikat di kakinya.
Keputusannya sudah bulat. Harry berbalik, kembali ke kamar rawat Sirius.
“Sirius...Snuffles...Padfoot, I love you.”
**   
Dear Profesor Dumbledore,
Bersama surat ini, saya, Harry James Potter, menyatakan diri keluar dari Hogwarts. Saya takkan melanjutkan dua tahun pendidikan sihir yang tersisa, dikarenakan saya harus merawat satu-satunya keluarga yang masih saya miliki. Segala urusan yang terkait dengan administrasi dan pengunduran diri akan segera dibereskan.

Salam hormat,

Harry James Potter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar