Sabtu, 07 Maret 2020

PK 159, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Ya


“Gardhika Khatulistiwa...kami dari bangsa yang besar. Beragam suku budaya satukan kita.”
Penggalan refrein lagu angkatan itu terus terngiang di benak Young Lady. Walau sudah berlalu, rasanya Young Lady masih kangen dengan PK 159. Apaan sih PK? Itu loh, program persiapan keberangkatan buat para penerima beasiswa LPDP. PK berlangsung selama 5 hari di Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta Utara.
To be honest, awalnya Young Lady cantik menyimpan banyak ketakutan tentang PK. Terlebih setelah mendengar cerita orang. Kegiatan super padatlah, nggak boleh pegang handphonelah, harus bangun pagi dan tidur malamlah, aduh pokoknya yang didengar Young Lady tentang PK seram-seram semua. Jujur saja, yang terberat buat Young Lady adalah terpisah tak bisa komunikasi dengan malaikat tampan bermata sipitku “Calvin Wan” selama beberapa hari. Itu sebabnya saat pra PK Young Lady kurang antusias dan pasif di grup.
Tapi...tapi...tapiii, kesan itu ambyar begitu bertemu seluruh peserta PK 159. Orang pertama yang ditemui Young Lady adalah Kak Nana, dosen penerima beasiswa BUDI tujuan IPB. Kak Nana orang pertama yang meraih tangan Young Lady cantik setiba di lokasi PK. Ehm...tapi, sebenarnya sejak pra PK, telah ada seseorang yang membuat Young Lady penasaran. His name’s Martino. Dia salah satu perwakilan angkatan, yang mau berlelah-lelah membantu menghubungkan kami dengan tim LPDP. Nantinya Kak Martino ini akan Young Lady tarik jadi anggota keluarga Calvin Wan series...yeaaaay.
Ok, back to focus. PK diawali dengan cantik. Kurang cantik apa coba? Kami berdiri sambil menyanyikan lagu Melompat Lebih Tinggi dan Sahabat Sejati. Ada pula dua MC yang menemani kami dan mencairkan kebekuan dengan cara mereka.
Oh ya, karena tema PK 159 adalah pariwisata Indonesia, Young Lady masuk ke kelompok Wakatobi. Wakatobi hebat. May kwa Wakatobi. Ada Kak Azis sebagai ketuanya.
Mungkin kalian berpikir PK ini membuang-buang waktu dan menguras tenaga. Ya, benar. PK memang melelahkan karena kami harus mulai beraktivitas sejak pukul lima pagi dan baru selesai pukul sepuluh malam. Itu pun belum tentu langsung tidur. Tiap kelompok harus mengerjakan daily report, dan Young Lady kebagian jatah di hari ketiga. Waktu tidur kami sangat sedikit. Terlebih Young Lady harus bangun pukul empat pagi agar masih punya waktu untuk menelepon “Calvin Wan” malaikat tampan bermata sipitku.
Namun, kelelahan kami terbayar. Rasanya waktu tidur kami yang sedikit dapat terbayar dengan bertemu narasumber hebat, orang-orang inspiratif sesama peserta PK, sesi by you for you, tukar kado, outbound, dan serangkaian keasyikan lainnya yang hanya ada di PK. Makanya kalau mau PK, jadi bagian keluarga besar LPDP.
Narasumber dari tim internal LPDP adalah Direktur Utama Pak Rionald Silaban, Pak Rafi (PIC PK yang membawakan materi dengan jokes di sana-sini), Ibu Ratna Prabandari, serta satu orang lagi yang mengambil bagian di sesi keuangan. Untuk dua yang terakhir, Young Lady tak begitu ingat sebab Young Lady tidur saat mereka berceramah...ups, ketahuan.
Sebuah keberuntungan buat Young Lady bisa bertemu penulis Negeri 5 Menara, Pak Ahmad Fuadi. Ada exercise menulisnya lagi. Saat sesi berfoto bersama, Pak Ahmad Fuadi menanyai buku-buku yang dihasilkan Young Lady.
Selain Pak Ahmad Fuadi, ada pula narasumber lain yang nggak kalah kece badai. Di antaranya Direktur Pencegahan BNPT, Prof Terry Mark, Ibu Amalia Maulana yang menjelaskan tentang personal branding, Andreas Sanjaya, Gubernur Ganjar Pranowo, dan Komisioner KPK 2011-2015 yang memaparkan tentang integritas (lagi-lagi Young Lady lupa namanya). Tapi, di antara sekian narasumber, tiada yang lebih menginspirasi selain Edwin Manansang atau yang lebih dikenal sebagai Edwin Libels. Ya, dialah yang membuat Young Lady paling terinspirasi di antara narasumber lainnya. Seorang penyanyi sekaligus doktor. PNS pejabat eselon dua tetapi pernah aktif menjadi entertainer di sela kesibukannya. Pria tampan yang mahir bernyanyi, yang menenangkan Young Lady bahwa PNS pun masih bisa terjun ke dunia entertain. Dan...jujur saja, Edwin Libels ini mengingatkan Young Lady pada “Calvin Wan” my second father also my future husband. Tipikal pria-pria di usia middle life yang masih terlihat tampan, bersuara bagus, dan sukses dalam karier.
Keasyikan lainnya yang hanya ada di PK adalah by you for you. Ternyata selain pintar secara akademis, peserta PK 159 juga kreatif dan bertalenta. Buktinya, sesi by you for you mereka bagus-bagus. Ada games Mencari Kawan, tebak lagu, PK 159 Got Tallent, dan kuis Yes or Know. Senang rasanya Young Lady memenangkan Yes or Know. Kalau kalian tanya kenapa Young Lady lumayan mengerti tentang pariwisata, mungkin jawabannya karena beberapa kali Young Lady ikut ajang pageants sejenis putri kampus atau duta wisata pelajar. So, Young Lady cantik pernah beberapa kali mempelajari pariwisata walau masih merasa ilmunya belum banyak.
Tiga hari dijejali segepok materi, waktunya outing di hari keempat. Yah, tapi Young Lady nggak ikut. Jadinya Young Lady staycation aja di hotel. Bukan tidur bukan pula istirahat, Young Lady malah merenung dan merencanakan ingin menulis novel baru. Sampai hari ini, novelnya sudah on going chapter 4. Dari ceritanya, kelihatannya sesi outing di hari keempat cukup seru. Peserta PK diajak rafting dengan perahu. Ada seorang dokter yang tenggelam atau entah apa, tetapi berhasil selamat. Hari keempat ditutup dengan PK 159 Got Tallent. Young Lady berkesempatan membawakan story telling tentang kisah Jose Gabriel Calvin.
Kalian tahu dosa terbesar PK? Mempertemukan untuk memisahkan. Tak terasa, tibalah hari kelima atau hari terakhir. Entah kenapa, di malam terakhir Young Lady galau sampai tak bisa tidur. Dulu saat pra PK, Young Lady ogah mengikuti prosesnya. Sekarang saat akan selesai, Young Lady ogah pulang. Young Lady mulai merasa nyaman dengan teman-teman PK. Padahal biasanya Young Lady tak mudah menjalin keakraban dengan orang lain. Perasaan ini makin galau ketika Kak Alef meminta Young Lady memberi kesan dan pesan di acara penutupan.
Hari kelima dibuka dengan integrity sport seperti biasa. Disusul pematerian tentang nasionalisme dan menangkal radikalisme. Setelah makan siang, kami bertukar kado dan awarding. Ada kejadian lucu saat tukar kado. Dua orang awardee pria mendapat kerudung sebagai kado. Lalu teman di sebelah Young Lady terlanjur percaya bila temannya benar-benar membawa radio, tahunya ia malah dapat kotak bento. Awarding diberikan pada pemenang sesi by you for you, ketua kelompok, dan para perwakilan angkatan. Yeeeay, di situ ada PA favorit Young Lady. Ada satu ketua kelompok yang sedikit diperhatikan Young Lady: Kak Steven Tandiono, ketua kelompok Derawan.
Saatnya memberi kesan dan pesan. Young Lady berbicara dengan tulus dari hati terdalam. PK diawali dengan cantik, dan akan diakhiri dengan cantik. Young Lady pun menyarankan agar 10-15 tahun kami bisa berkumpul lagi di sini untuk reuni. Nanti kita cerita tentang hari ini, ya.
5 hari yang penuh makna telah berakhir. Seperti lagunya Melly Goeslaw dan Marthino Lio, biar jauh jarak pandang kita namun hati dan jiwaku selalu merasa di sisimu. Walau peserta PK 159 telah terpencar ke berbagai penjuru dunia, semoga hati dan jiwa selalu dekat. Young Lady galau sekali saat harus terpisah.
Terima kasih untuk Kak Martino, selamat datang di keluarga Calvin Wan series. Terima kasih untuk Putry yang memberi pin dan menemani dengan setia di hari terakhir. Terima kasih Barki untuk atensi dan e-mailnya. Terima kasih untuk dr. Hilmi yang telah menyebut namaku di sesi kesan dan pesan. Terima kasih untuk Kak Akhir yang telah membantu soal database dengan sabar tanpa keluhan dan omelan sedikit pun. Terima kasih untuk Kak Irmadra yang begitu menenangkan dengan cara bicaranya yang lembut dan pelan. Terima kasih untuk Bu Erni dengan rangkulan dan belaiannya di hari kedua saat Young Lady lelah. Kalau lelah atau sedih, Young Lady jadi lebih manja. Tau aja Young Lady suka dipeluk. Terima kasih untuk Kak Elsy untuk kehangatannya saat games Mencari Kawan. Terima kasih buat Kak Yoni dan Kak Rinto yang membantu my mom di hari sebelum PK. Thank you Kak Ainun, sudah begitu peduli dengan Young Lady di hari keempat pas kita nggak ikutan outing. Terima kasih Kak Alef untuk pengertiannya karena Young Lady tak bisa ikut tim paduan suara. Terima kasih untuk Pak Sofwan Effendi, Direktur Beasiswa LPDP yang telah memanggil saya untuk berdiri di sampingnya saat penutupan dan menyebut saya model. Mungkin Bapak lihat foto atau jejak modelingku di borang prestasi. Terima kasih untuk ke196 peserta PK 159 untuk segala tarian, nyanyian, dan kebersamaan selama 5 hari. Kalau kelak kalian sudah jadi menteri, pejabat publik, atau apa pun yang kalian inginkan, ingatlah bahwa kita pernah menari dan menyanyi bersama.
PK 159 Gardhika Khatulistiwa, Siap Berkarya, Indonesia Jaya!
Torang samua basudara.
Dari Young Lady cantik bermata biru.

Kamis, 06 Februari 2020

Tentang Hinata yang Merindukan Gaara


Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Sabaku Gaara adalah pria terbaik di antara Naruto dan teman-temannya.
.
.
Jangan salahkan rintik air mata yang jatuh dari langit
Karena itulah air mata rinduku untukmu
.
.
Hinata berdiri di puncak tangga. Membiarkan angin nakal mengurai ikatan rambutnya yang terikat longgar. Surai indigo itu berkibaran, menjatuhi punggung. Biarlah nanti ada tangan kokoh nan hangat yang menguncirkan kembali rambutnya.
Ironis, pemilik tangan itu tak ada di sini. Entah dimana ia sekarang. Mungkin di kantor Suna Corp, atau di rumah sakit. Opsi pertama mungkin tidak benar. Baru sepuluh menit lalu Hinata menelepon Matsuri. Sekretaris bohai berambut coklat itu melaporkan kalau suaminya telah meninggalkan kantor.
“Gaara-kun? Kau dimana?” desah Hinata pasrah.
Petir menggeletar. Rintik hujan terdengar ringan di telinga. Dalam bayangan Hinata, langit sore ini teramat gelap. Gulungan awan Nimbus setebal kitab suci menghiasinya.
Ya, mantan heirres Hyuuga itu hanya bisa membayangkan. Sepasang manik lavender itu buta. Silakan menyalahkan retinanya yang telah rusak akibat kecelakaan mobil bertahun-tahun silam.
Kami-sama Maha Adil. Selepas kecelakaan yang merenggut penglihatan dan kedua orang tuanya, Hinata tak lagi sendiri. Gaara mengulurkan tangan dengan penuh kasih bagai malaikat pelindung. Ia menikahi Hinata, lalu membawa wanita cantik itu tinggal bersamanya.
Jika dirunut ke belakang, sesungguhnya Gaara bukanlah orang baru dalam hidup Hinata. Kehadiran pria berambut marun itu telah mendominasi separuh lembar buku hidupnya. Pertama kali Hinata mengenal Gaara dalam usia enam tahun.
.
.
.
Todoke todoke tooku e
Ima wo kishikaisei namida azukete
Kono tobira no mukou ni
Mada minu asu ga otozureru kara
Hajimare
Nagai nagai kimi monogatari
Gapailah, gapailah, sejauh mungkin
Kini kupercayakan air mata ini kepadamu
Karena dari sisi lain pintu ini
Ada hari esok yang akan menghampiri
Telah dimulai
Cerita yang panjang tentang dirimu
.
.
.
Hari sudah sore ketika taman bermain itu dipenuhi anak-anak. Mereka membentuk kelompok kecil. Ada yang bermain bola, berkejaran, memanjat naik ke rumah pohon, memainkan jungkat-jungkit, dan meluncur di perosotan. Satu-satunya permainan anak yang sepi hanyalah ayunan.
Ayunan itu hanya dimainkan seorang diri. Anak lelaki berambut merah, bermata jade, dan berkulit pucat duduk di ayunan biru. Lengannya mendekap Teddy Bear. Matanya sayu menatap kawan-kawan sepantarannya yang larut dalam keceriaan.
Buk!
Kulit bundar berwarna orange melayang. Tepat mengenai sisi kanan tubuh anak pucat itu. Diambilnya bola seraya ditimang. Perlahan ia bangkit, bermaksud mengembalikan bola.
“Hmmm, tidak usah.” Tolak anak pemilik bola dengan gusar.
Anak bersurai merah itu terdiam, menggenggam bola erat-erat.
“Buatmu saja. Aku tidak mau menerima benda dari anak berpenyakit sepertimu.”
Little Gaara mengerjap. Dia tidak selemah itu. Kalau perlu, dia bahkan bisa bermain bola dengan lincah seperti mereka. Sejurus kemudian Gaara menjejalkan bola ke tangan pemiliknya. Alih-alih senang, si anak malah mendorong Gaara sambil berteriak,
“Minggir anak penyakitan! Jangan harap aku mau berteman denganmu!”
Tubuh Gaara tersungkur mencium rumput. Seisi taman meneriakinya. Sampai...
“Kamu tidak apa-apa?”
Sepasang tangan pucat terulur. Lembut, mulus, dan menenangkan. Refleks Gaara menyambut tangan itu. Sekali lihat saja ia tahu kalau tangan itu milik anak perempuan.
“Hei, Hinata! Ngapain kamu bantu anak lemah itu?” teriak seorang gadis kecil berambut sewarna bubble gum.
“Kurasa Naruto lebih cakep!” Anak pirang dan bermata aquamarine tersenyum mengejek.
“Hinata suka Gaara! Hinata suka Gaara!” Gadis berambut cempol berkoar, disusul jerit nyaring anak lainnya.
Tak peduli, Hinata menggandeng Gaara meninggalkan taman. Berdua mereka menyusuri trotoar. Lelampu jalan mulai menyala, pertanda senja kian dekat.
“Abaikan mereka,” gumam Hinata lembut.
Hari itu menjadi hari pertama yang indah untuk Gaara dan Hinata.
.
.
.
“Aku merindukanmu, Gaara-kun. Rindu tubuhmu, cintamu, kasih sayangmu.”
Derit halus pintu disusul derap sepatu membuyarkan kenangan Hinata. Hatinya melonjak gembira.
“Tadaima...”
“Ayah!”
Ah, itu suara-suara yang dinantinya. Gaara pulang. Shinki, anak tunggal mereka, menyambutnya.
Tangan Hinata menggapai-gapai pagar tangga. Ia ingin turun, ingin menyambut belahan jiwanya.
“Sini, Sayangku. Kau tak perlu turun untuk menyambutku.”
Suara barithon itu teramat menenteramkan. Hinata disekap kehangatan. Detik berikutnya, bibir Gaara menyapu kening Hinata. Ciuman kening dari Gaara adalah sesuatu yang selalu dinantikan Hinata dan Shinki.
“Gaara-kun sudah minum obat?” tanya Hinata saat Gaara membimbingnya ke kamar utama.
“Sudah, Princess. Bagaimana harimu? Matamu tidak perih lagi, kan?”
“Sedikit..”
Langkah mereka terhenti. Mereka telah sampai di kamar bernuansa broken white itu. Gaara membungkuk, mencium mata Hinata.
“Semoga sakitnya pindah padaku,” ujarnya tulus.
Hati Hinata berdesir hangat. Gaara menghangatkan pernikahan mereka dengan kelembutannya. Ia cintai Hinata apa adanya. Tak pernah sekalipun ia menuntut Hinata melayaninya. Bahkan...oh, demi Tuhan, Gaara tidak meminta pelayanan Hinata di tempat tidur. Shinki mereka dapatkan lewat jalan adopsi.
“Gaara-kun tidak boleh sakit,” lirih Hinata.
“Tidak, Hinata. Aku...uhuk.”
Ujung kalimatnya terpotong. Hati Hinata mencelos. Didengarnya langkah-langkah menjauh.
.
.
.
Sayonara to te wo futta ano ko
Wa ichido mo ushiro wo furikaerazu ni
Hitonami nomarete kieta
Kokoro no renzu wo kumoraseru no wa
Jibun ga tsuiteta tameiki sa
Mabataki sae mo oshii bamen wo
Nakushiteta
Berkata "selamat tinggal" dan melambai
Gadis itu tak akan menoleh ke belakang lagi
Kemudian ia menghilang di dalam keramaian orang

Lensa hatiku berubah menjadi berkabut
Kemudian aku pun menghela nafas
Saat menutup mata, adegan yang disesalkan itu
Telah menghilang (Little by Little-Kimi Monogatari).
.
.
.
Pandangan mata Gaara berkabut. Komisaris utama Suna Corp itu merasakan tusukan sakit luar biasa di dadanya. Sejenak dia tatapi pantulan wajahnya di cermin wastafel.
Pucat. Paras yang bertambah pucat dari hari ke hari. Lingkaran hitam kian menebal. Berbanding terbalik dengan rambut merahnya yang kian menipis.
Percik-percik darah mengotori wastafel. Hidung Gaara mengeluarkan banyak darah. Dia terbatuk. Membuat genangan kecil di bidang putih persegi itu.
“Tuhan...aku ikhlas dengan masa kecilku yang kelam,” rintih Gaara, seraya menutup matanya sejenak.
“Aku ikhlas ditakdirkan dalam keadaan double minority, kesepian, dan tanpa teman. Tapi aku belum rela bila nyawaku dilepas sekarang. Shinki dan Hinata masih memerlukanku.”
Ayah satu anak itu resah. Bagaimana Hinata dan Shinki bila tanpa dirinya? Sewaktu ia dirawat di rumah sakit selama dua minggu, Hinata tak bisa berhenti menangis. Shinki terus memanggil Ayahnya dan menolak masuk sekolah. Hidup istri dan anaknya akan berantakan tanpa Gaara. Bungsu Sabaku itu pelangi cinta mereka.
.
.
.
“Princess,” panggil Gaara lembut.
Hinata meringkuk di ranjang besar. Matanya berkaca-kaca. Ia cemas, cemas sekali pada kondisi sang suami.
Kedua tangan hangat Gaara melingkari tubuh Hinata. Hidung mancungnya merendah, tepat menyentuh surai istrinya. Menghirup dalam-dalam aroma lavender. Sementara itu, ketenangan menyeruak ke hati Hinata tatkala mencium wangi Calvin Klein dari tubuh Gaara.
“Kamu tidak akan kehilanganku...” hibur Gaara.
“Gaara,” kata Hinata serak.
“Lebih baik aku buta selamanya dari pada kehilangan cinta kasihmu.”
Sontak Gaara mengeratkan pelukannya. Diciuminya ubun-ubun dan dahi Hinata penuh cinta.
“Kau takkan kehilanganku. Pakailah bahuku untuk menangis sepuasmu. Gunakan telingaku untuk menampung curahan hatimu, sepanjang apa pun yang kaumau. Hinata, aku mencintaimu aku mencintaimu aku mencintaimu.”

Sabtu, 13 April 2019

Always Love My Godfather

Fanfiksi, ungkapan cinta untuk godfather Sirius Black.
Disclaimer: Harry Potter milik J. K. Rowling
**    
“Avada Kedavra!”
Kilatan cahaya hijau itu, telak menghantam dadanya. Sirius jatuh, jatuh menembus selubung. Tubuhnya melengkung anggun. Memasuki relung pintu kuno itu, lalu lenyap.
Tidak, tidak sepenuhnya lenyap. Harry berlari mengejar. Di saat seperti ini, mana mungkin ia lepaskan ayah baptisnya begitu saja? Mengabaikan seruan tertahan Lupin dan gemuruh pertempuran di sekitarnya. Semuanya serasa tak penting lagi. Kilatan cahaya merah-hijau, derai tawa Pelahap Maut, pecahan bola kaca ramalan, dan debam tubuh-tubuh yang terjatuh. Demi nama Merlin, semuanya tak penting lagi.
“Sirius!” Harry berteriak.
Ia berharap, sangat berharap walinya bertahan hidup. Seperti dirinya yang berhasil lolos dari kutukan kematian Lord Voldemort enam belas tahun lalu.
**    
Kucinta dirimu
Bagiku kau pahlawan hidupku
Kusayang dirimu
Ku berjanji bahagiakanmu
I love you my daddy
Kau pahlawan hidupku
I love you my daddy...
^Song by Rio, Alvin, Ray, Keke, and Zevana^
**    
Tapi...kegentingan itu telah berlalu. Doa Harry tepat menyentuh langit ketujuh, didengar langsung oleh Tuhan. Kutukan Kematian yang diluncurkan Bellatrix Lestrange tak berhasil membunuh Sirius. Ayah baptisnya selamat!
Mantra penangkal yang manjur. Apakah mantra penangkal itu? Cinta. Ya, cinta. Tiada lain cinta Harry yang teramat kuat untuk Sirius. Seperti cinta Lily yang membuat Harry terselamatkan dari Kutukan Kematian.
Sirius bertahan karena cinta.
Sungguh karena cinta.
Lihatlah, kini Animagus tampan itu terbaring di ruang rawat ST Mungo. Tubuhnya melemah, wajahnya sepucat mayat, tetapi ia hidup. Ia masih di sini. Ia tidak meninggalkan Harry.
Lunaslah janji itu. Janji godfather untuk selalu ada di sisi godson. Akumulasi janji dan kekuatan cinta mempertahankan nyawa Sirius tetap di dalam raga.
“Mana yang sakit?” tanya Harry perlahan.
Tangan kurus itu bergetar menunjuk dadanya. Tempat kutukan itu terhantam. Harry menggenggam tangan Sirius, menguatkannya.
“Semoga sakitnya pindah padaku...”
“Nope...” Sirius menggeleng lemah.
“Big no, son. Cukup aku yang rasakan.”
Sedetik Harry memalingkan wajah. Tidak, ia tidak tega melihat Sirius sakit. Jika diizinkan, biarlah rasa sakit itu pindah ke tubuhnya.
Hening. Tak lama, keheningan itu dipecahkan bunyi jam saku emas milik Harry. Jam itu seperti milik mantan Menteri Sihir, Cornelius Fudge. Fudge telah dilempar dari kursi Menteri sejak kejadian di Departemen Misteri. Dunia sihir menganggapnya tak sanggup mengatasi situasi gelap ini.
“Waktunya minum obat...” gumam Harry.
Sejurus kemudian, ia dorong kursinya ke belakang. Berjalan menyamping ke nakas, mengambil beberapa piala berisi ramuan. Entah apa khasiat obat-obat itu, Harry tak tahu. Dia bukan healer. Tak pernah terlintas di benaknya untuk menjadi Penyembuh.
Dibawanya piala-piala itu ke tepi ranjang. Sirius menolak meminum obatnya.
“Kenapa, Sirius? Ini demi kesembuhanmu...” bujuk Harry.
“Aku tak akan sembuh lagi,” lirih Sirius.
“Kau akan sembuh. Kau harus sembuh.”
Namun, Sirius masih saja menolak. Harry mendesah letih. Mungkin saja ramuannya tak enak. Sampai-sampai Sirius enggan meminumnya.
“Sirius, sakit ada untuk menghargai sehat. Sekaranglah saatnya kesehatan itu diraih dan dihargai...”
“Kau tak tahu rasanya, Harry.”
“Untuk memahami sesuatu, kita tak perlu merasakannya. Kita hanya perlu berempati. Aku sangat, sangat berempati pada...”
“Kau mengasihaniku?”
Harry menggeleng kuat. Sadar betul nada suara Sirius naik satu oktaf.
“Aku tidak mengasihanimu. Aku menyayangimu...sangat menyayangiku. Lebih dari aku menyayangi diriku sendiri, menyayangi Ron dan Hermione.”
Percayalah, itu bukan kebohongan. Kata-kata cinta datang dari hati terdalam. Cinta anak untuk ayahnya.
Sirius adalah sosok pengganti ayah yang sangat sempurna. Sudah berkali-kali dia membuktikan kesetiaannya pada Harry. Dari tempat persembunyiannya yang jauh, Sirius pernah kembali ke Hogsmeade dan bersembunyi di gua agar lebih dekat dengan Harry. Sirius mempertaruhkan segalanya, segalanya, demi Harry.
“Kalau kau menyayangiku, jangan paksa aku minum ramuan itu!” bentak Sirius marah.
“Justru sekaranglah saatnya kubalas semua kasih sayangmu. Aku akan merawatmu, Sirius. Merawatmu sampai kau sembuh. Lalu kita akan tinggal bersama lagi di Grimmauld Place.”
Mendengar itu, Sirius tertawa getir. Sebutir air mata membasahi iris kelabunya. Kegetiran dan air mata berpadu, melagukan mada kepedihan.
“Sembuh? Kau lupa apa kata Penyembuh semalam? Aku...takkan sama lagi.”
Dan...jatuhlah kristal-kristal bening dari matanya. Lebih banyak, lebih banyak lagi. Air mata datang dari hati yang tulus. Hati yang telah lama menderita, hati yang terluka dalam, hati yang tersiksa selama dua belas tahun di dalam penjara dan dua tahun dalam pelarian. Hati yang kesepian karena tak dipercaya banyak orang.
Harry tahu, Sirius pria yang tangguh. Setangguh-tangguhnya  seorang penyihir, ia tetap punya sisi rapuh. Kerapuhan menunjukkan bahwa dirinya masih manusia.
Sepersekian menit kesedihan itu tertumpah. Dada Sirius naik-turun menahan kepedihan. Helaan napasnya memberat. Ia terbatuk. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Sirius muntah darah.
Kepanikan menjalari sekujur tubuh Harry. Tidak, dia harus kuat di depan walinya. Janji telah terpatri kuat di hati untuk merawat Sirius, apa pun yang terjadi.
“Sirius...kaupikir rasa sayangku padamu akan berkurang setelah kondisimu begini?” Harry mendekat, mengusap bercak-bercak darah.
“Tidak.” lanjut Harry, menjawab sendiri pertanyaannya.
“Aku takkan meninggalkanmu...apa pun yang terjadi.”
Ya, itu janjinya. Janji yang sekarang harus ditepati. Harry menghela napas, mengutarakan keputusannya.
“Bila aku harus keluar dari Hogwarts untuk merawatmu, akan kulakukan. Bila peranku memerangi Voldemort harus terhenti, aku takkan keberatan. Kau lebih penting. Kau segalanya bagiku. Hanya kau satu-satunya keluarga yang kumiliki.”
Kepala Sirius tertunduk dalam. Wajah tegarnya berubah sendu. Ada luka di sana, ada pedih yang membayangi.
“Dunia sihir membutuhkanmu, Harry. Kau Sang Terpilih. Egois sekali jika aku memaksamu tetap bertahan di sini untuk merawatku...”
“Aku tak peduli.” sela Harry.
“Biarlah dunia sihir dan seisinya runtuh, asalkan aku masih bisa bersamamu. Aku akan merawatmu sebisaku.”
**    
Untaian kabut tebal melayang-layang di luar sana. Seluruh kota London gelap dan suram. Kabut dingin, di bulan Juli. Tekanan, kesedihan, dan depresi melanda. Semuanya gegara Dementor. Iblis pengisap kebahagiaan yang membelot dari Kementerian Sihir dan bergabung dengan Voldemort. Dulu, setan-setan berkeropeng itu menjaga tempat dimana Sirius menderita.
Teringat Sirius, tekadnya menguat. Malam membubung. Sirius telah jatuh tertidur. Harry meraih sehelai perkamen, sebotol tinta, dan sebatang pena-bulu. Dicelupkannya pena-bulu ke botol tinta, lalu dia mulai menulis.
Menit-menit berlalu lambat. Surat itu selesai. Tersenyum puas, Harry berjalan ke pelataran rumah sakit. Ia memanggil Hedwig, burung hantu cantik yang tak pernah gagal mengantarkan surat.
“Ini untuk Profesor Dumbledore, ok?” ucap Harry.
Hedwig ber-uhu sekali, mematuk sayang tangan Harry, lalu terbang pergi. Sehelai surat terikat di kakinya.
Keputusannya sudah bulat. Harry berbalik, kembali ke kamar rawat Sirius.
“Sirius...Snuffles...Padfoot, I love you.”
**   
Dear Profesor Dumbledore,
Bersama surat ini, saya, Harry James Potter, menyatakan diri keluar dari Hogwarts. Saya takkan melanjutkan dua tahun pendidikan sihir yang tersisa, dikarenakan saya harus merawat satu-satunya keluarga yang masih saya miliki. Segala urusan yang terkait dengan administrasi dan pengunduran diri akan segera dibereskan.

Salam hormat,

Harry James Potter

Senin, 28 Januari 2019

Surat untuk Allah yang Selalu Punya Waktu

Dear Allah,
Allah Yang Maha Cinta, kutahu Engkau selalu punya waktu untukku. Bukan hanya untukku, tapi waktu untuk seluruh makhluk ciptaanMu di alam raya dan langit.
Aku ingin konseling padaMu, ya Rabb. Dari pada ke psikolog, aku titipkan saja keluhanku padaMu.
Ya, Allah, kau tahu? Akhirnya pintu di RRI tertutup untukku. Sandiwara radio itu gagal dengan diplomasi yang memuakkan. Berputar-putar dan terlalu panjang.
Sedih? Sangat. Bukan karena harapanku terlalu tinggi, tapi karena mereka menghempaskanku. Mereka sendiri yang menawarkan, tapi mereka juga yang membantingku. Itu rasanya sakit.
The door closed.
Aku sedih. Sepertinya tak ada lagi pintu yang kan terbuka untukku.
Aku juga takut, ya Allah. Aku sering mengkhawatirkan malaikat tampan bermata sipitku. Rasanya dia begitu jauh dariku. Diriku takut kehilangannya.
Serasa aku teramat jauh dengannya. Padahal aku ingin dekat. Tentu Kau mengerti maksudku, ya Allah.
Bukan perbedaan rentang usia yang kupermasalahkan. Tapi perbedaan jalan. Aku masih berbeda jalan dengannya. Aku takut hanya dipertemukan dengannya di dunia. Aku ingin dipertemukan lagi bersamanya di akhirat. Tapi mungkinkah...?
Aku tak berani berharap, ya Allah ya Latif. Aku tak berani menaruh harapan pada pria yang seluruh hidupnya berputar pada keluarga intinya saja. Percuma, Ya Latif. Percuma. Aku hanya bisa begini. Menyepi dan menitipkannya padaMu.
Ya Allah, ya Jabar, aku mau jujur padaMu. Aku cemburu, cemburu sekali pada kakaknya. Bisa-bisanya aku kalah dengan perempuan yang sangat biasa dan tidak cantik. Mengapakah semua yang terbaik belum tentu jadi pemenang?
Diri ini sudah lelah dijegal. Di RRI, ada pria baik tapi dikelilingi wanita-wanita buruk. Mungkin juga malaikat tampan bermata sipitku begitu. Aku tak mudah percaya orang sebelum benar-benar mengenalnya.
Hatiku didera pesimistis, ya Allah. Pesimistis tentang rangkaian impianku ingin mengadaptasi karyaku ke dalam bentuk film. Semua pintu seolah tertutup rapat untukku.
Aku merasa semuanya sia-sia, Ya Qudus. Aku merasa Tahajud-tahajudku di sepertiga malam, memberi makan orang miskin tiap hari sia-sia saja di mataMu. Maaf ya Allah, aku terlalu banyak mengeluh.
Oh ya, aku juga takut my Ronald Wan dikremasi. Aku tak rela bila orang yang kucintai, salah satu malaikat hidupku, berakhir menjadi abu. Aku takut. Ini bagian dari rasa takut kehilangan.
Ketakutanku akan kehilangan dirinya teramat besar. Disusul gelembung balon kesepian. Aku benar-benar didera ketakutan besar. Sulit, sulit bagiku mengatur pikiran. Bayangan tentang mutasi gen kanker, rasa sakit, dan kehilangan malaikatku berkelebatan di pikiran. Sering aku berpikir. Lebih baik aku berumur pendek dari pada kehilangan kekasihku.
Ya, Allah, aku takut kehilangannya di tengah perjalanan waktu. Aku takut kesehatannya tergerus usia. Sungguh, aku takut.
Ku teringat kisah nabi Yusuf. Nabi Yaqub berkata bahwa Engkaulah penjaga terbaik. Voila, Nabi Yusuf dikembalikan pada Yaqub. Maka, saksikanlah doaku: aku titipkan orang-orang yang kucintai padaMu, ya Allah. Kumohon jagalah mereka. Berikan untukku bila waktunya tepat.
Aku tak berani berharap apa pun. Kecurigaan tumbuh di hatiku. Keluarganya terlalu ikut campur urusan hidupnya, mengekangnya, dan mencegahnya bersatu denganku. Bila kecurigaanku benar, lebih dalam luka hatiku.
Aku memang tidak pantas diterima dalam keluarga mana pun. Memang berbahaya bila pria teerlalu dicampuri urusan hidupnya oleh keluarga, terutama ibunya. Terlebih si pria sudah lebih dari dewasa untuk membangun hidupnya dan cabang keluarganya sendiri. Itu yang kusedihkan dan kutakutkan.
With love,

Young Lady cantik bermata biru

Rabu, 09 Januari 2019

Sebuah Surat untuk Allah: Dear My Allah

Dear Allah,
Ya, Allah, Engkau tentunya tahu. Di hatiku  tak ada cinta untuk Abi Assegaf, seperti rasaku pada Ronny. Tapi aku hanya menyayanginya sebagai ayahku. Salahkah bila aku membelanya, Ya Allah? When I stand up for him, I get a risk.
Aku takut sandiwara radionya batal, ya Allah. Sering kudengar sesuatu yang besar batal hanya karena kesalahan kecil. Aku takut, takut sekali.
Ya, Allah, salahkah bila kita membela seseorang dari sesuatu yang tidak baik? Sudah tiga kali aku membela Abi. Pertama, ketika dia di-body shaming soal rambutnya yang hilang. Kedua, aku membela Abi dari bullying karena pernikahannya yang sangat terlambat. Ketiga, yang sekarang ini. Ketika orang-orang meragukan kemampuan Abi. Aku ingin memperjuangkan rezeki Abi sebagai pemeran utama.
Salahkah ya Allah? Mataku sakit, ya Allah. Hatiku pedih. Aku takut gagal.
Who want to stand up for me?
Sayang orang lain terus, adakah yang menyayangiku?
Ya, Allah, mengapa rasanya banyak sekali cobaan untuk melangkah ke situ?
Aku sedih, sedih sekali.
Katanya, aku terlalu baik.
Ya, Allah Yang Maha Cinta, benarkah aku terlalu bodoh, terlalu baik, terlalu mudah dimanfaatkan?
Ya, Allah, mengapa tiap kali aku mengingat Abi, aku teringat ketakutanku tentang Ronny? Aku takut Ronny sakit kanker...entah kenapa. Walau ketakutan itu sangat tidak baik.
Ya, Allah, aku takut keluarganya menahan Ronny, bahkan melarangnya, untuk bersamaku. Aku takut. Mengapa segalanya masih berliku dan penuh keterbatasan?
Ya, Allah, aku tak mudah percaya manusia. Apa lagi manusia yang belum kukenal. Aku tidak tahu harus menitipkan sedih ini pada siapa selain padaMu.


Dear Allah, Sebuah Surat untuk Allah

Kini aku tiba di satu titik dimana aku ingin menulis surat pada Allah. Menceritakan isi hatiku, saat siklus kewanitaan menghalangi ibadah. Aku ingin sekali menulis surat untuk my Allah.