Sabtu, 21 Mei 2016

Komunitas Bisa, Orang-Orang Hebat Yang Luangkan Waktu Demi Memotivasi Anak

 Hai, readers. Hari ini, tanggal 21 Mei 2016. Hari yang istimewa menurut saya? Kenapa istimewa? Karena.....taraaaaaa...saya ketemu lagi sama Komunitas Bisa!
Sebelumnya, apa sih Komunitas Bisa itu? Saya ceritakan sedikit tentang komunitas yang satu ini.
Komunitas Bisa merupakan singkatan dari Bangkitkan Inspirasi Anak Bangsa. Berawal dari kegiatan Kelas Inspirasi Bandung 3, khususnya kelompok SD Langensari. Sasaran kegiatan Komunitas Bisa adalah siswa-siswi SMP. Komunitas ini bersifat nirlaba dan bergerak di bidang pendidikan. Anggotanya terdiri dari berbagai background dan profesi. Tiap empat bulan sekali Komunitas Bisa melakukan kegiatan berbagi pengalaman dan inspirasi dalam satu hari yang dinamakan Hari Berbagi.
Ada tiga nilai dasar dalam Komunitas Bisa. Belajar pada alam, memahami dari pengalaman, dan berbakti pada kampung halaman.
Itulah sekilas tentang Komunitas Bisa. Nah, kenapa saya bisa gabung di komunitas yang keren dan inspiratif itu? Saya diajak bergabung oleh Pak Indra, Ajudan Wali Kota Bandung. Saya mulai bergabung di Komunitas Bisa pada awal tahun ini, tepatnya 16 Januari 2016 di Hari Berbagi 4. Waktu itu kegiatan dilaksanakan di SMP FK Bina Muda Cicalengka.
Komunitas Bisa beranggotakan orang-orang dari berbagai profesi dan background. Ada Kang Renza (pengusaha di bidang industri sabun), Teh Inez (entrepreneur), Kang Erwin (psikolog), Dokter David, Ibu Nur (Kepala Puskesmas), Teh Fitri (HRD), Kang Jance (barista), Kang Arif Hidayat Adam (astronomer), Kang Gandhi (staf di Kantor Pajak), Teh Nita (MC dan marketing properti), Teh Winda (telekonsultan), Kang Surya (programmer), Koh Wandi Tan (pengusaha rumah makan0), Teh Masayu (internal audit), Teh Merisca (analis bisnis), Bu Evi, Teh Yani, Imas Sensei, Teh Susan, Teh Mila (guru), dan masih banyak lagi. Hebatnya, ada pula anggota Komunitas Bisa yang berasal dari Jakarta. So, mereka melakukan perjalanan jauh dari Jakarta ke Bandung demi Hari Berbagi. Contohnya Teh Merisca, Kang Faisal, dan beberapa relawan lainnya.
Malam sebelumnya, saya sempat nge-tweet dan nge-mention akun Twitter Komunitas Bisa di @KomunitasBisaID ceritanya mau kasih semangat gitu buat Hari Berbagi besoknya. Seru deh...di group Whatsapp juga ramai terus. Karena biasanya Komunitas Bisa diskusinya di group itu.
Di Hari Berbagi 5 ini, kami mendatangi SMP Raksanagara Cihampelas. Letaknya di Jalan Desa Tanjung Jaya Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat. Awalnya saya mau berangkat bareng Kang Erwin dan kawan-kawan, tapi akhirnya nggak jadi. Saya putuskan bawa mobil aja dari rumah.
Jam 05.50, saya berangkat dari rumah. Bisa dibayangkan, rumah saya di daerah timur Bandung. Terus saya pergi ke bagian barat Bandung. Wow...jauhnyaaa. But it’s ok. Saya udah biasa kok pergi jauh. Toh saya suka jalan-jalan dan mengeksplor daerah baru yang belum pernah saya kunjungi. Kebetulan, daerah Cihampelas Bandung Barat ini belum pernah saya kunjungi.
Sampai di jalan tol, hujan mengguyur deras. Alhamdulillah, berkah Illahi. Wiper mobil bergerak pelan menyapu sisa-sisa air hujan yang membekas di kaca. Anehnya, pas keluar tol, hujan berhenti. Yah, nggak apa-apa. Segi positifnya, udara jadi sejuk dan segar.
Ditemani lagu History-nya One Direction, mobil meluncur mulus menyusuri areal Taman Kopo Indah. Keluar dari Taman Kopo Indah, saya melewati Cipatik, Patrol, dan Cililin. Sempat happy juga pas lewat Desa Mekarjaya. Dikiranya udah dekat, nggak tahunya masih lima kilo lagi. Hahaha...terlalu optimis.
Walaupun udah dibantu GPS, tetap saja terjadi risiko nyasar. Salah belok...tanya sana-sini, barulah sampai di sekolah. Malah ada seorang ibu-ibu yang bilang gini pas selesai ditanya, “Tadi juga ada satu mobil yang nanyain SMP Raksanagara.” Kayaknya ibu-ibu itu udah tahu gitu ya, tujuan saya mau kemana.
Selang 1.5 jam, saya sampai di SMP Raksanagara. Awalnya waswas juga, dugaan awal nggak dapat parkir. Tapi akhirnya dapat parkir juga. Sudah ada lima mobil yang datang. Saya khawatir, jangan-jangan saya terlambat. Tapi nggak tahunya saya belum terlambat. Masih ada lagi yang ditunggu.
Turun dari mobil, saya langsung dihadiahi pelukan dari beberapa anggota Komunitas Bisa. Saya menyukai pelukan, dan saya senang menerimanya dari mereka. Rasanya hangat, penuh cinta, dan penuh rindu. Setelah empat bulan lamanya, akhirnya kami bertemu lagi. Bersama-sama kami memasuki ruangan brieffing. Bu Evi menggandeng tangan saya, dan beliau duduk bersama saya di dalam ruangan.
Tiba di ruang brieffing, saya disambut Kang Renza. Seperti biasa, pembawaan hangatnya membuat saya nyaman dan tenang. Senang rasanya bisa diberi kesempatan bertemu lagi. Saya perhatikan, Ketua Komunitas Bisa yang satu ini memakai pakaian putih, sama seperti waktu Hari Berbagi 4. Putih, warna favorit saya. Dan pakaian yang saya kenakan tadi juga berwarna putih.
Mulailah kami brieffing. Pertama oleh Ketua Panitia, yaitu Teh Susan. Disusul perkenalan oleh anggota-anggota baru. Seperti biasa, bukan Komunitas Bisa namanya jika tanpa canda dan tawa. Ada saja humor yang terselip, dan suasana benar-benar nyaman.
Usai brieffing, para relawan yang kebagian jam pertama bergegas ke kelas masing-masing sesuai jadwal. Saya mendapat giliran jam kedua. Praktis saya masih bisa bersantai sejenak di ruang bersama beberapa relawan motivator lainnya. Kami melewatkan waktu dengan sharing dan diskusi.
Sampai akhirnya, tibalah giliran saya di jam kedua untuk mengisi kelas motivasi. Saya ditempatkan di kelas 8B. Letak ruang kelasnya di bagian belakang. Saya memasuki kelas bersama Teh Susan.
As usual, saya memulainya dengan ucapan salam dan selamat pagi. Mula-mula saya menjelaskan tentang kehidupan saya. Bagaimana saya mulai menulis dan menjadi penyiar radio, tentang novel-novel saya, tentang skenario, radio, dan kegiatan sosial. Sebab judul materi yang saya bawakan adalah “Mencintai dan Mengisi Hidup Dengan Kebaikan”. Saya membagikan skenario The Angel’s Melody pada anak-anak. Thanks banget buat Teh Susan yang udah bantu saya edarin skenario itu dari satu meja ke meja. Saya jelaskan sedikit tentang istilah-istilah dalam skenario, seperti int, ext, montage, dan penomoran dalam scene. Mudah-mudahan mereka paham dengan penjelasan saya. Saya khawatir penjelasannya tidak dimengerti. Awalnya, ingin saya masukkan sedikit materi tentang hipnoterapi. Cabang ilmu terapi penyembuhan yang baru-baru ini sedang saya tekuni. Namun setelah dihitung-hitung, sepertinya durasi tak memungkinkan.
Setelah menyampaikan materi, saya menugaskan mereka menulis tentang kesan dan pesan pada para motivator. Setelah selesai, mereka membacakan tulisan itu satu per satu di depan kelas. Tujuan saya untuk melatih teknik menulis dan public speaking. Bagi tulisan terbaik, saya menghadiahkan salah satu dari tiga skenario yang saya bawa.
Beberapa menit berlalu. Semula saya duduk di depan meja guru. Lalu saya bangkit dan berkeliling di antara anak-anak. Mengamati cara kerja mereka dan menjawab pertanyaan. Saya ingat, ada siswi yang aktif bertanya pada saya. Namanya Wulan. Saya takkan melupakan siswa semacam itu. Sambil menunggu mereka menulis, saya menceritakan pengalaman berkunjung ke Rumah Cinta, rumah singgah khusus anak-anak pengidap kanker. Saya memotivasi mereka untuk mengisi hidup dengan kebaikan dan menumbuhkan empati.
Akhirnya, lantaran takut durasi tak mencukupi, saya menyudahi waktu pengerjaan. Saya meminta anak yang sudah selesai untuk maju ke depan dan membacakan hasil tulisannya. Tak ada yang mau. Saya sempat menawari Wulan, namun ia tak mau. Saya heran, bukankah dia yang tadi aktif bertanya? Tapi tak mengapa, lalu saya tunjuk murid lain. Namanya Fikri. Ia maju ke depan dan membacakan tulisannya. Actually, tulisannya cukup bagus. Lalu saya minta ia menunjuk temannya untuk maju selanjutnya. Begitu seterusnya, satu per satu anak maju ke depan. Ada saja kelucuan yang mereka tertawakan saat teman-teman mereka maju.
Bel tanda berakhirnya jam kedua mengakhiri kebersamaan saya dengan kelas 8B. Sayangnya, tak semua anak sempat membacakan tulisannya. Meski demikian, saya menghadiahkan skenario pada siswa yang tulisannya terbaik. Dan pemenangnya jatuh pada Fikri. Saya mengingatkan ia untuk meminjamkan skenario pemberian saya jika ada teman yang ingin meminjamkannya. Ia tersenyum dan mengucap terima kasih.
Setelahnya saya kembali ke ruang brieffing. Bertemu dan ngobrol lagi dengan relawan-relawan motivator yang stay di sana. Dalam sekejap, suasana ramai kembali tercipta. Kocak, semarak, dan...bikin kangen. Asyik deh pokoknya. Saya nyaman bersama mereka. Mereka dewasa, tapi humoris. Candaan mereka menyenangkan, namun merekapun berpikiran dewasa. Saya suka itu. Mereka adalah orang-orang yang pintar, dewasa, sukses dengan kariernya, dan inspiratif. Jiwa sosial mereka pun tinggi. Bagaimana tidak, mereka bersedia meluangkan satu hari dari kesibukan demi memotivasi anak-anak yang bersekolah di daerah pelosok seperti ini. Kegiatan ini gratis, mereka menjadi motivator tanpa dibayar. Bukankah positif sekali? Membuat jiwa sosial dan kepedulian menjadi terasah? Saya senang sekali bisa menjadi bagian dari orang-orang hebat ini.
Tibalah waktu istirahat. Kami pindah ke aula. Sebab acara setelah jam istirahat akan dipusatkan di sana.
Usai istirahat, anak-anak berdatangan ke aula. Mereka dikondisikan untuk berbaris rapi. Ada dua sesi dalam rangkaian terakhir acara Hari Berbagi 5 ini. Ada sesi problem solver. Ini khusus untuk tiga anak terpilih dari tiap kelas. Format problem solver ini berupa mencari dan memecahkan masalah di lokasi sekolah. Intinya, membuat project agar kondisi sekolah lebih baik lagi. Anak-anak itu diminta mewawancarai guru dan teman-teman mereka. Lalu mereka membuat presentasi tentang project itu, estimasi pendanaan, cara-cara merealisasikan project, dan jangka waktu project. Mereka dibagi dalam tiga group. Group A, B, dan C.
Sementara anak-anak perwakilan kelas membahas problem solver di luar aula, murid-murid lainnya diberikan sesi yang tak kalah seru. Mulai dari ice breaking berupa senam pinguin, sulap, pemutaran film dan video, dan lima langkah meraih mimpi. Semua ini tentu berkat partisipasi anggota baru dan astronomer kami, Kang Arif Hidayat Adam.
Selesai persiapan presentasi, satu per satu group problem solver mempresentasikan hasilnya. Group A dan B mengajukan project perbaikan toilet sekolah. Group C mengajukan project pengadaan air bersih di sekolah. Semua presentasinya bagus-bagus. Hanya terpilih satu pemenang, grup B terpilih sebagai pemenangnya. Akan tetapi bukan berarti group A dan C tidak mendapat hadiah.
Usai pembagian hadiah, berlangsung sesi foto. Anak-anak berfoto bersama semua relawan. Acara Hari Berbagi 5 ditutup dengan doa.
Selesailah rangkaian Hari Berbagi 5. Baru setelah itu para relawan berfoto-foto. Saya berada di antara Bu Evi dan Teh Inez. Anehnya, sesi foto para motivator diiringi backsound Pamit dari Tulus yang diputarkan dari notebook milik salah satu relawan.
Puas berfoto, kami duduk dan brieffing lagi. Brieffing penutupan tak kalah serunya. Kami membahas banyak hal, tak lupa melontarkan banyak candaan. Candaan seperti tak ada habisnya di sini. Dan kami tak ragu untuk tertawa atau tersenyum lepas. Saya senang dan bahagia bersama mereka. Diputuskan bila next project akan dilakukan Bulan September. September! Pas ulang tahun saya! Semoga tanggal 9, makin pas tuh...hehehe. Dan Ketua Panitia untuk project berikutnya adalah...Kang Erwin. Good luck, kakak Psikolog-ku. Akang pasti bisa.
Di perjalanan pulang, hari sudah sore. Lagi-lagi saya ditemani History-nya One Direction. Saya berpikir, banyak hal positif yang bisa diambil dari Hari Berbagi dan Komunitas Bisa. Ikut Komunitas Bisa itu ballance. Dengan kami mendatangi sekolah-sekolah di daerah pelosok, kita melihat ke bawah. Dengan berkumpul bersama anggota Komunitas Bisa yang terdiri dari berbagai latar belakang dan pekerjaan, kami melihat ke atas. Kami yang memotivasi, tapi justru kami yang termotivasi oleh semangat dan cita-cita para murid itu. Kami belajar bersyukur dan berbuat kebaikan dengan tulus. Komunitas Bisa juga mengajarkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri, keberanian, empati, kepedulian, dan kepekaan sosial. Tak ada hal negatif yang saya dapatkan di komunitas ini. Hanya hal-hal positif yang saya dapatkan. Terlebih, sepertinya saya anggota termuda di sini. Saya bisa belajar banyak dari mereka. Mereka kakak-kakak saya, keluarga saya, inspirasi saya. Saya jadi tergerak menulis novel tentang Komunitas Bisa. Setelah PSM, kenapa nggak coba Komunitas Bisa? Iya tho?
So, terima kasih buat hari ini. Pertemuan dengan Komunitas Bisa sungguh menyenangkan. Semoga kita bisa segera bertemu lagi. Thank you, danke, syukran, merci beaucoup, arigato, matur nuwun. Kang Renza, Kang Erwin, Teh Inez, Bu Evi, Teh Nita, dan semuanya, saya pasti akan merindukan kalian. Kang Oki, Kak Faisal, Kang Gandhi, Pak Indra, dan lainnya, semoga kalian bisa ikut di next project.
Saya kesusahan meng-upload foto-fotonya.. Semoga di www.komunitasbisa.org sudah di-upload.
Semangat bisa!
Cita-citaku,
Aku yakin
Aku bisa,
Harus bisa,

Pasti bisa!

Komunitas Bisa, Orang-Orang Hebat Yang Luangkan Waktu Demi Memotivasi Anak

 Hai, readers. Hari ini, tanggal 21 Mei 2016. Hari yang istimewa menurut saya? Kenapa istimewa? Karena.....taraaaaaa...saya ketemu lagi sama Komunitas Bisa!
Sebelumnya, apa sih Komunitas Bisa itu? Saya ceritakan sedikit tentang komunitas yang satu ini.
Komunitas Bisa merupakan singkatan dari Bangkitkan Inspirasi Anak Bangsa. Berawal dari kegiatan Kelas Inspirasi Bandung 3, khususnya kelompok SD Langensari. Sasaran kegiatan Komunitas Bisa adalah siswa-siswi SMP. Komunitas ini bersifat nirlaba dan bergerak di bidang pendidikan. Anggotanya terdiri dari berbagai background dan profesi. Tiap empat bulan sekali Komunitas Bisa melakukan kegiatan berbagi pengalaman dan inspirasi dalam satu hari yang dinamakan Hari Berbagi.
Ada tiga nilai dasar dalam Komunitas Bisa. Belajar pada alam, memahami dari pengalaman, dan berbakti pada kampung halaman.
Itulah sekilas tentang Komunitas Bisa. Nah, kenapa saya bisa gabung di komunitas yang keren dan inspiratif itu? Saya diajak bergabung oleh Pak Indra, Ajudan Wali Kota Bandung. Saya mulai bergabung di Komunitas Bisa pada awal tahun ini, tepatnya 16 Januari 2016 di Hari Berbagi 4. Waktu itu kegiatan dilaksanakan di SMP FK Bina Muda Cicalengka.
Komunitas Bisa beranggotakan orang-orang dari berbagai profesi dan background. Ada Kang Renza (pengusaha di bidang industri sabun), Teh Inez (entrepreneur), Kang Erwin (psikolog), Dokter David, Ibu Nur (Kepala Puskesmas), Teh Fitri (HRD), Kang Jance (barista), Kang Arif Hidayat Adam (astronomer), Kang Gandhi (staf di Kantor Pajak), Teh Nita (MC dan marketing properti), Teh Winda (telekonsultan), Kang Surya (programmer), Koh Wandi Tan (pengusaha rumah makan0), Teh Masayu (internal audit), Teh Merisca (analis bisnis), Bu Evi, Teh Yani, Imas Sensei, Teh Susan, Teh Mila (guru), dan masih banyak lagi. Hebatnya, ada pula anggota Komunitas Bisa yang berasal dari Jakarta. So, mereka melakukan perjalanan jauh dari Jakarta ke Bandung demi Hari Berbagi. Contohnya Teh Merisca, Kang Faisal, dan beberapa relawan lainnya.
Malam sebelumnya, saya sempat nge-tweet dan nge-mention akun Twitter Komunitas Bisa di @KomunitasBisaID ceritanya mau kasih semangat gitu buat Hari Berbagi besoknya. Seru deh...di group Whatsapp juga ramai terus. Karena biasanya Komunitas Bisa diskusinya di group itu.
Di Hari Berbagi 5 ini, kami mendatangi SMP Raksanagara Cihampelas. Letaknya di Jalan Desa Tanjung Jaya Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat. Awalnya saya mau berangkat bareng Kang Erwin dan kawan-kawan, tapi akhirnya nggak jadi. Saya putuskan bawa mobil aja dari rumah.
Jam 05.50, saya berangkat dari rumah. Bisa dibayangkan, rumah saya di daerah timur Bandung. Terus saya pergi ke bagian barat Bandung. Wow...jauhnyaaa. But it’s ok. Saya udah biasa kok pergi jauh. Toh saya suka jalan-jalan dan mengeksplor daerah baru yang belum pernah saya kunjungi. Kebetulan, daerah Cihampelas Bandung Barat ini belum pernah saya kunjungi.
Sampai di jalan tol, hujan mengguyur deras. Alhamdulillah, berkah Illahi. Wiper mobil bergerak pelan menyapu sisa-sisa air hujan yang membekas di kaca. Anehnya, pas keluar tol, hujan berhenti. Yah, nggak apa-apa. Segi positifnya, udara jadi sejuk dan segar.
Ditemani lagu History-nya One Direction, mobil meluncur mulus menyusuri areal Taman Kopo Indah. Keluar dari Taman Kopo Indah, saya melewati Cipatik, Patrol, dan Cililin. Sempat happy juga pas lewat Desa Mekarjaya. Dikiranya udah dekat, nggak tahunya masih lima kilo lagi. Hahaha...terlalu optimis.
Walaupun udah dibantu GPS, tetap saja terjadi risiko nyasar. Salah belok...tanya sana-sini, barulah sampai di sekolah. Malah ada seorang ibu-ibu yang bilang gini pas selesai ditanya, “Tadi juga ada satu mobil yang nanyain SMP Raksanagara.” Kayaknya ibu-ibu itu udah tahu gitu ya, tujuan saya mau kemana.
Selang 1.5 jam, saya sampai di SMP Raksanagara. Awalnya waswas juga, dugaan awal nggak dapat parkir. Tapi akhirnya dapat parkir juga. Sudah ada lima mobil yang datang. Saya khawatir, jangan-jangan saya terlambat. Tapi nggak tahunya saya belum terlambat. Masih ada lagi yang ditunggu.
Turun dari mobil, saya langsung dihadiahi pelukan dari beberapa anggota Komunitas Bisa. Saya menyukai pelukan, dan saya senang menerimanya dari mereka. Rasanya hangat, penuh cinta, dan penuh rindu. Setelah empat bulan lamanya, akhirnya kami bertemu lagi. Bersama-sama kami memasuki ruangan brieffing. Bu Evi menggandeng tangan saya, dan beliau duduk bersama saya di dalam ruangan.
Tiba di ruang brieffing, saya disambut Kang Renza. Seperti biasa, pembawaan hangatnya membuat saya nyaman dan tenang. Senang rasanya bisa diberi kesempatan bertemu lagi. Saya perhatikan, Ketua Komunitas Bisa yang satu ini memakai pakaian putih, sama seperti waktu Hari Berbagi 4. Putih, warna favorit saya. Dan pakaian yang saya kenakan tadi juga berwarna putih.
Mulailah kami brieffing. Pertama oleh Ketua Panitia, yaitu Teh Susan. Disusul perkenalan oleh anggota-anggota baru. Seperti biasa, bukan Komunitas Bisa namanya jika tanpa canda dan tawa. Ada saja humor yang terselip, dan suasana benar-benar nyaman.
Usai brieffing, para relawan yang kebagian jam pertama bergegas ke kelas masing-masing sesuai jadwal. Saya mendapat giliran jam kedua. Praktis saya masih bisa bersantai sejenak di ruang bersama beberapa relawan motivator lainnya. Kami melewatkan waktu dengan sharing dan diskusi.
Sampai akhirnya, tibalah giliran saya di jam kedua untuk mengisi kelas motivasi. Saya ditempatkan di kelas 8B. Letak ruang kelasnya di bagian belakang. Saya memasuki kelas bersama Teh Susan.
As usual, saya memulainya dengan ucapan salam dan selamat pagi. Mula-mula saya menjelaskan tentang kehidupan saya. Bagaimana saya mulai menulis dan menjadi penyiar radio, tentang novel-novel saya, tentang skenario, radio, dan kegiatan sosial. Sebab judul materi yang saya bawakan adalah “Mencintai dan Mengisi Hidup Dengan Kebaikan”. Saya membagikan skenario The Angel’s Melody pada anak-anak. Thanks banget buat Teh Susan yang udah bantu saya edarin skenario itu dari satu meja ke meja. Saya jelaskan sedikit tentang istilah-istilah dalam skenario, seperti int, ext, montage, dan penomoran dalam scene. Mudah-mudahan mereka paham dengan penjelasan saya. Saya khawatir penjelasannya tidak dimengerti. Awalnya, ingin saya masukkan sedikit materi tentang hipnoterapi. Cabang ilmu terapi penyembuhan yang baru-baru ini sedang saya tekuni. Namun setelah dihitung-hitung, sepertinya durasi tak memungkinkan.
Setelah menyampaikan materi, saya menugaskan mereka menulis tentang kesan dan pesan pada para motivator. Setelah selesai, mereka membacakan tulisan itu satu per satu di depan kelas. Tujuan saya untuk melatih teknik menulis dan public speaking. Bagi tulisan terbaik, saya menghadiahkan salah satu dari tiga skenario yang saya bawa.
Beberapa menit berlalu. Semula saya duduk di depan meja guru. Lalu saya bangkit dan berkeliling di antara anak-anak. Mengamati cara kerja mereka dan menjawab pertanyaan. Saya ingat, ada siswi yang aktif bertanya pada saya. Namanya Wulan. Saya takkan melupakan siswa semacam itu. Sambil menunggu mereka menulis, saya menceritakan pengalaman berkunjung ke Rumah Cinta, rumah singgah khusus anak-anak pengidap kanker. Saya memotivasi mereka untuk mengisi hidup dengan kebaikan dan menumbuhkan empati.
Akhirnya, lantaran takut durasi tak mencukupi, saya menyudahi waktu pengerjaan. Saya meminta anak yang sudah selesai untuk maju ke depan dan membacakan hasil tulisannya. Tak ada yang mau. Saya sempat menawari Wulan, namun ia tak mau. Saya heran, bukankah dia yang tadi aktif bertanya? Tapi tak mengapa, lalu saya tunjuk murid lain. Namanya Fikri. Ia maju ke depan dan membacakan tulisannya. Actually, tulisannya cukup bagus. Lalu saya minta ia menunjuk temannya untuk maju selanjutnya. Begitu seterusnya, satu per satu anak maju ke depan. Ada saja kelucuan yang mereka tertawakan saat teman-teman mereka maju.
Bel tanda berakhirnya jam kedua mengakhiri kebersamaan saya dengan kelas 8B. Sayangnya, tak semua anak sempat membacakan tulisannya. Meski demikian, saya menghadiahkan skenario pada siswa yang tulisannya terbaik. Dan pemenangnya jatuh pada Fikri. Saya mengingatkan ia untuk meminjamkan skenario pemberian saya jika ada teman yang ingin meminjamkannya. Ia tersenyum dan mengucap terima kasih.
Setelahnya saya kembali ke ruang brieffing. Bertemu dan ngobrol lagi dengan relawan-relawan motivator yang stay di sana. Dalam sekejap, suasana ramai kembali tercipta. Kocak, semarak, dan...bikin kangen. Asyik deh pokoknya. Saya nyaman bersama mereka. Mereka dewasa, tapi humoris. Candaan mereka menyenangkan, namun merekapun berpikiran dewasa. Saya suka itu. Mereka adalah orang-orang yang pintar, dewasa, sukses dengan kariernya, dan inspiratif. Jiwa sosial mereka pun tinggi. Bagaimana tidak, mereka bersedia meluangkan satu hari dari kesibukan demi memotivasi anak-anak yang bersekolah di daerah pelosok seperti ini. Kegiatan ini gratis, mereka menjadi motivator tanpa dibayar. Bukankah positif sekali? Membuat jiwa sosial dan kepedulian menjadi terasah? Saya senang sekali bisa menjadi bagian dari orang-orang hebat ini.
Tibalah waktu istirahat. Kami pindah ke aula. Sebab acara setelah jam istirahat akan dipusatkan di sana.
Usai istirahat, anak-anak berdatangan ke aula. Mereka dikondisikan untuk berbaris rapi. Ada dua sesi dalam rangkaian terakhir acara Hari Berbagi 5 ini. Ada sesi problem solver. Ini khusus untuk tiga anak terpilih dari tiap kelas. Format problem solver ini berupa mencari dan memecahkan masalah di lokasi sekolah. Intinya, membuat project agar kondisi sekolah lebih baik lagi. Anak-anak itu diminta mewawancarai guru dan teman-teman mereka. Lalu mereka membuat presentasi tentang project itu, estimasi pendanaan, cara-cara merealisasikan project, dan jangka waktu project. Mereka dibagi dalam tiga group. Group A, B, dan C.
Sementara anak-anak perwakilan kelas membahas problem solver di luar aula, murid-murid lainnya diberikan sesi yang tak kalah seru. Mulai dari ice breaking berupa senam pinguin, sulap, pemutaran film dan video, dan lima langkah meraih mimpi. Semua ini tentu berkat partisipasi anggota baru dan astronomer kami, Kang Arif Hidayat Adam.
Selesai persiapan presentasi, satu per satu group problem solver mempresentasikan hasilnya. Group A dan B mengajukan project perbaikan toilet sekolah. Group C mengajukan project pengadaan air bersih di sekolah. Semua presentasinya bagus-bagus. Hanya terpilih satu pemenang, grup B terpilih sebagai pemenangnya. Akan tetapi bukan berarti group A dan C tidak mendapat hadiah.
Usai pembagian hadiah, berlangsung sesi foto. Anak-anak berfoto bersama semua relawan. Acara Hari Berbagi 5 ditutup dengan doa.
Selesailah rangkaian Hari Berbagi 5. Baru setelah itu para relawan berfoto-foto. Saya berada di antara Bu Evi dan Teh Inez. Anehnya, sesi foto para motivator diiringi backsound Pamit dari Tulus yang diputarkan dari notebook milik salah satu relawan.
Puas berfoto, kami duduk dan brieffing lagi. Brieffing penutupan tak kalah serunya. Kami membahas banyak hal, tak lupa melontarkan banyak candaan. Candaan seperti tak ada habisnya di sini. Dan kami tak ragu untuk tertawa atau tersenyum lepas. Saya senang dan bahagia bersama mereka. Diputuskan bila next project akan dilakukan Bulan September. September! Pas ulang tahun saya! Semoga tanggal 9, makin pas tuh...hehehe. Dan Ketua Panitia untuk project berikutnya adalah...Kang Erwin. Good luck, kakak Psikolog-ku. Akang pasti bisa.
Di perjalanan pulang, hari sudah sore. Lagi-lagi saya ditemani History-nya One Direction. Saya berpikir, banyak hal positif yang bisa diambil dari Hari Berbagi dan Komunitas Bisa. Ikut Komunitas Bisa itu ballance. Dengan kami mendatangi sekolah-sekolah di daerah pelosok, kita melihat ke bawah. Dengan berkumpul bersama anggota Komunitas Bisa yang terdiri dari berbagai latar belakang dan pekerjaan, kami melihat ke atas. Kami yang memotivasi, tapi justru kami yang termotivasi oleh semangat dan cita-cita para murid itu. Kami belajar bersyukur dan berbuat kebaikan dengan tulus. Komunitas Bisa juga mengajarkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri, keberanian, empati, kepedulian, dan kepekaan sosial. Tak ada hal negatif yang saya dapatkan di komunitas ini. Hanya hal-hal positif yang saya dapatkan. Terlebih, sepertinya saya anggota termuda di sini. Saya bisa belajar banyak dari mereka. Mereka kakak-kakak saya, keluarga saya, inspirasi saya. Saya jadi tergerak menulis novel tentang Komunitas Bisa. Setelah PSM, kenapa nggak coba Komunitas Bisa? Iya tho?
So, terima kasih buat hari ini. Pertemuan dengan Komunitas Bisa sungguh menyenangkan. Semoga kita bisa segera bertemu lagi. Thank you, danke, syukran, merci beaucoup, arigato, matur nuwun. Kang Renza, Kang Erwin, Teh Inez, Bu Evi, Teh Nita, dan semuanya, saya pasti akan merindukan kalian. Kang Oki, Kak Faisal, Kang Gandhi, Pak Indra, dan lainnya, semoga kalian bisa ikut di next project.
Saya kesusahan meng-upload foto-fotonya.. Semoga di www.komunitasbisa.org sudah di-upload.
Semangat bisa!
Cita-citaku,
Aku yakin
Aku bisa,
Harus bisa,

Pasti bisa!

Jumat, 20 Mei 2016

Karena Saya Seorang Wanita

“Karena saya seorang wanita”.
Kalimat itu sudah sering saya dengar. Saya sering menemukan kasus dimana posisi wanita serba salah. Hanya karena status wanita, posisinya menjadi dirugikan. Ironis, bukan?
Umumnya, wanitalah yang mesti menerima dan menunggu. Pria yang memberi aksi, sedangkan wanita cukup memberi reaksi. Jarang saya lihat wanita melakukan aksi. So, di sini wanita hanya bisa diam dan menunggu pada posisinya.
Wanita identik dengan kode. Jika mereka menyukai seorang pria, mereka akan memberi kode pada pria itu. Namun yang menjadi masalah, apakah pria akan menyadarinya? Apakah perasaan pria cukup peka untuk menangkap sinyal-sinyal cinta yang dilemparkan sang wanita padanya?
Bila wanita secara eksplisit menyatakan suka pada seorang pria, sering kali ia disangka agresif oleh khalayak. Sedangkan bila ia tetap bertahan diam dengan kode-kodenya yang entah sampai atau tidak, nasib perjalanan cintanya akan terus menggantung.
Well, saya pernah menemukan sebuah kasus. Di sini, analogikan saja saya sebagai wanita malang dalam kasus itu.
Saya menyukai seorang pria. Saya kagum, suka, dan care padanya. Sekali dalam seminggu saya bertemu dengannya. Saya mendengarkan tiap ucapannya, memperhatikan permainan pianonya, peduli padanya tiap kali dia sedang tidak baik-baik saja, mengirim banyak e-mail untuknya, dan membatalkan schedule saya demi bisa bertemu dia. Saya memperhatikannya pula dari jauh, juga dari socmed-nya. Tetapi, apa yang saya dapat? Dia berpura-pura tidak menyadarinya. Dia justru bermesraan dengan gadis lain.
Dari kasus ini, saya bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang ada di pikirannya? Mengapa dia melakukan itu? Dan apakah selamanya wanita hanya bisa menerima atau pasrah?
Di sini saya bukan ingin menyalahkan para pria. Hanya saja, saya ingin menggarisbawahi satu poin penting: bagaimana agar perasaan wanita dapat tersampaikan dan ia mendapat feedback-nya dari pria? Feedback itu tidak harus berupa balasan dari perasaan si wanita. Yang terpenting apa yang dirasakan, dibutuhkan, dan diinginkan dari wanita dapat tersampaikan dengan baik pada pria. Kepada pria, izinkan wanita bicara dari hati ke hati dengan kalian. Beri ia kesempatan.

Khususnya pada strong angel, saya ingin menyampaikan ini. Izinkan saya bicara denganmu, sekali saja. Beri aku kesempatan untuk bicara.

Senin, 16 Mei 2016

Menjadi Pribadi Yang Kuat

Hari ini saya terjatuh. Kaki kanan saya terluka dan berdarah. Praktis, bercak darah menodai tepi pakaian dan ujung sepatu saya. Perih memang, tapi saya berhasil menahan bibir dan ucapan saya untuk mengeluh ataupun mengerang kesakitan. Saya senang seperti ini, menyembunyikan rasa sakit dan mengurangi keluhan seminimal mungkin.
Saya pribadi tak suka mengeluh.  Saya belajar membawa rileks masalah dalam kehidupan. Kerapuhan menjadi hal yang amat saya hindari.
Banyak orang tegar yang saya kenal. Banyak pula sosok lemah nan rapuh yang saya kenal. Mereka semua tentunya memiliki sisi negatif dan positif masing-masing. Mungkin hal positif yang dapat saya tangkap dari mengeluh adalah perasaan menjadi lebih tenang dan lega. Itu saja. Lalu, apa lagi? Tak ada. Justru menurut saya, keluhan-keluhan itu membawa pengaruh negatif dalam pikiran.  Mengusir pikiran-pikiran positif yang seharusnya mengisi relung hati kita.
So, saya putuskan untuk tidak mengeluh atau menampakkan rasa sakit. Tak ada gunanya. Tak ada untungnya. Hanya merugikan saja.
Saya ingin menjadi pribadi yang kuat. Saya ingin membawa semua problem serileks mungkin. Seperti yang diajarkan malaikat pemberi inspirasi di novel The Angel's Melody. Hmmm....mengingatnya, saya jadi merindukan dia. Dan saya pun ingin berterima kasih padanya. Karena secara tidak langsung telah membantu saya menjadi pribadi yang tegar.

Minggu, 15 Mei 2016

Keluarga Itu...

Hari ini keluarga saya kembali pergi bersama. Bepergian saat weekend memang sering kami lakukan. Kakak-kakak saya pulang dari Jakarta. Lalu mengajak saya, Mama, dan Papa jalan-jalan. Kami mengunjungi pusat kota, mendengarkan lagu di mobil diiringi canda tawa, membeli beberapa barang, dan makan di restoran.
Jujur, saya merasakan kehangatan dan kebersamaan. Saya dan keluarga memang jarang bertemu saat weekdays lantaran kesibukan masing-masing. Tapi begitu bertemu saat weekend, rasanya menyenangkan. Cukuplah quality time di Hari Sabtu dan Minggu. Cukuplah waktu yang kami punya digunakan untuk bepergian dan bercengkerama. Bahkan tadi, saya sengaja tidak bawa ponsel dari rumah. Biar quality time saya dan keluarga nggak terganggu.
Saya senang bisa berada di dekat mereka. Mendengarkan janji Mama yang ingin membuatkan green tea milk untuk saya saat memperhatikan saya minum green tea dengan nikmatnya. Menanyakan rencana kakak sulung saya ke Palembang minggu depan. Biasalah, saya kepo. Nanya pakai flight apa, berangkat kapan dari Soeta, dan mau balik ke Bandung nggak hari Seninnya. Yah...kayak gitulah.
Buat saya, keluarga itu tempat kembali dari segala kepenatan rutinitas. Buat saya, keluarga itu tempat saya mendapatkan perlindungan terbaik dan rasa nyaman. Keluarga juga menjadi tempat terbaik untuk melepaskan sejenak beban-beban saya. Meski pernah pula saya kecewa dengan keluarga, namun hal itu tidak mengurangi kecintaan saya pada mereka.
Itu baru keluarga kecil. Gimana dengan keluarga besar? Kapan-kapan akan saya ceritakan tentang mereka. Andai penglihatan tak terbatas, pasti saya akan posting foto mereka di sini. I love you Mom, Dad, and my sista.

Dan Akhirnya...

Rasanya udah lama banget sejak saya terakhir nge-blog. Maaf ya, blog ini jadi nggak terurus.  Abis ada banyak kejadian dan kesibukan di saat rentang waktu terakhir kali saya posting sampai sekarang ini.
Diawali dari sibuknya kegiatan perkuliahan.  Terus ikutan PSM (Paduan Suara Mahasiswa UPI), Suprevisi (itu semacam tim advokasinya BEM REMA UPI gitu), sampai motivator di Komunitas Bisa. Komunitas Bisa tuh singkatan dari Bangkitkan Inspirasi Anak Bangsa. Terinspirasi dari Kelas Inspirasi. Para profesional muda turun ke sekolah-sekolah terpencil buat memotivasi murid-murid di sana. Biasanya kami cuti satu hari dari kesibukan dan pekerjaan buat memotivasi mereka. But, believe it or not, seringnya justru kami yang termotivasi dan terinspirasi sama semangat belajar mereka di tengah segala keterbatasan. Dan...tararaaaa...di sana, saya motivator paling muda! Mereka rata-rata umurnya 20 tahun ke atas. Saya baru 18 tahun. No problem...saya tetap happy kok.
Dilanjutkan lagi dengan kesibukan bikin novel yang keenam. Judulnya The Angel's Melody. Melodi Sang Malaikat. Inspirasinya dari PSM UPI. UKM yang inspiratif banget buat saya. Bukan cuma ilmu dan keluarga baru, tapi inspirasi dari sesosok pelatih vokalnya yang luar biasa. Ya, bagi saya dia luar biasa dan mengagumkan. Banyak inspirasi dan pelajaran berharga yang bisa diambil darinya. Kata-katanya yang paling saya ingat adalah: sifat tertinggi setelah cinta adalah ikhlas. Wow...dalem banget kan, readers? Yang setuju angkat tangan!
Mau tahu lebih banyak tentang dia? Silakan beli dan baca buku saya yang akan rilis tanggal 27 Mei nanti. Insya Allah, semoga lancar. Doain ya semua....
Dan akhirnya...saya mau menyampaikan kabar kurang baik dari rangkaian peristiwa yang saya alami. Saya akhirnya putus. Dia yang pernah saya ceritakan, kini berstatus mantan. Alasannya simple sih: dunia kami berbeda. Berasa kayak lagunya Isyana Sarasvati ya?
Saya nggak mau banyak cerita soal ini. Yang jelas saya kapok cari pacar yang dunianya beda dengan saya. Kini ada sesosok malaikat yang tela mencuri hati dan menyelimuti hati saya dengan kekaguman.

Jumat, 07 Agustus 2015

Sacrifice of Love: Perlu Ada Pengorbanan dalam Cinta



Sacrifice of Love: Perlu Ada Pengorbanan Dalam Cinta

Lagi-lagi saya tergerak buat nge-blog atas faktor gundah dan khawatir. Ditambah perasaan susah tidur. So, meski waktu menunjukkan tepat pukul dua pagi, hasrat untuk mencurahkan segalanya ke dalam kata-kata tak dapat tertahan lagi.
Diawali dari meninggalnya teman saya akibat kanker. Peristiwa kematian karena ganasnya kanker memang bukan hal baru. Kemoterapi, radiasi, dan operasi tidak bisa menjamin kesembuhan seratus persen. Bahkan ketiga pengobatan medis itu justru meninggalkan efek samping yang cukup signifikan.
Yah...tragedi kematian teman saya itu berada dalam kuasa Allah Azza wa Jala. Saya hanya bisa berdoa agar amal ibadahnya diterima, segala dosanya diampuni, kuburnya diluaskan, dan keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan. Jujur saya sendiri sulit percaya, namun cepat-cepat saya tepis ketidakpercayaan itu menjadi keikhlasan.
Di tengah duka yang mendera, saya kembali diuji. Saya tak menyangka jenis ujian seperti ini akan datang lagi.
Saya layak menyebutnya sebagai ujian cinta. Ya, lantaran ujian ini melibatkan saya dan pria yang sangat saya cintai. Berawal dari ungkapan kerinduannya pada saya, lalu sayapun mengungkapkan rindu yang sama. Dan pada kenyataannya, saya memang sangat merindukan dia. Terlebih frekuensi komunikasi kami akhir-akhir ini sangat kurang.
Jantung saya serasa berhenti berdetak kala dia menyatakan jika dirinya tak tahan lagi. Dia bahkan ingin berteman saja dengan saya. Langsung saja logika dan batin saya menerbitkan tanda tanya. Ada apa sebenarnya? Apakah dia tidak baik-baik saja? Adakah sesuatu yang menimpanya sehingga ia terpikir untuk mengakhiri semuanya?
Big no. Begitulah kata hati saya. Saya takkan melepaskannya. Dia yang pertama, saya ingin menjadikannya yang terakhir pula. Dan malam ini, untuk kedua kalinya, saya menangis karena seorang pria. Menangis karena cinta.
Saya berusaha meyakinkan dia. Saya kira dia akan mengerti, berbeda dengan pria-pria lain yang pernah mendekati saya. Mereka langsung mundur teratur begitu mengetahui betapa sibuknya saya. Saya duga, dia akan mengerti. Sebab selama ini, dalam pandangan saya dia tipikal pria yang sangat pengertian.
Pada akhirnya dia berhasil diyakinkan. Diapun meminta maaf. As usual, pintu maaf saya selalu terbuka untuknya. Setelah itu, saya mengungkapkan segalanya. Segala yang terpendam di hati saya. Bahwa saya tak ingin dia sedih, sakit, maupun terluka. Saya akan senang andai kesedihan, kebahagiaan, rasa sakit, atau apapun yang dirasakannya menjadi bagian hidup saya. Akan tetapi dia merasa semua itu takkan bisa. Pasalnya saya tidak bisa selalu ada untuknya. Saya tak punya waktu untuknya. Dia hanya bisa menunggu saya.
Saat itu, pikiran saya makin kacau. Untuk kesekian kalinya saya merasa begitu ironis. Dedikasi saya untuk orang-orang dan beberapa kegiatan bisa saya berikan, namun saya belum bisa memberikan dedikasi untuk kekasih saya sendiri. Ironis, bukan?
Sejurus kemudian terpikir oleh saya untuk mengorbankan salah satu aktivitas saya. Namun ia menolak. Ia menduga, nanti ada yang menyalahkannya karena hal itu. Lebih baik saya tetap begini, dan dirinya baik-baik saja. Oh Dear...dalam situasi seperti ini, masih saja dia pengertian. Masih saja dia mengalah.
Ketika semuanya sudah lebih baik, kembali terpikir oleh saya untuk berkorban. Mengorbankan salah satu kegiatan, mengurangi kesibukan saya. Bukankah dalam cinta mesti ada pengorbanan? Saya tak bisa membiarkannya terus-menerus mengalah. Saya tahu dia kuat, tetapi bukankah kekuatan selalu ada batasnya?
Sudah cukup sering saya membaca kisah-kisah pengorbanan dalam cinta, baik itu kisah fiksi maupun nyata. Mungkin sekaranglah giliran saya untuk melakukan pengorbanan pula. Dengan demikian saya bisa memiliki lebih banyak waktu untuknya, mendampinginya, dan ikut merasakan sedih, rasa sakit, luka, bahagia, atau apapun yang ia rasakan. Saya akan dengan senang hati menjadikan semua itu sebagai bagian hidup saya.
Sesungguhnya, problem saya yang paling mendasar ialah ketidakmampuan membagi waktu. Masalah ini benar-benar sulit dan belum saya temukan pemecahannya. Sejak dulu time management saya jelek sekali. Urusan pribadi dan urusan novel, modeling, organisasi, kegiatan sosial, dll sulit terbagi. Dan sedihnya, sejak awal saya sering kali mengorbankan urusan pribadi. Semua ini menyedihkan. Saya butuh pemecahan.
Maka dari itu saya tergerak untuk berkorban. Berkorban demi cinta. Seperti yang saya lihat dan baca selama ini. Jika nanti ada yang menyalahkan dia karena saya mengorbankan satu hal, saya takkan tinggal diam. Pihak yang menyalahkan itu mesti dibuka dulu mata hatinya.
Saya jadi teringat kata-kata kakak kelas dan sahabat saya: Nelsyadela Putry dan Heni Christiani. Teh Nelsya-begitu saya biasa memanggilnya-mengatakan semakin lama sebuah hubungan, makin banyak aral melintang yang akan menghadang. Kuat-tidaknya cinta dan ketulusan kita yang menentukan. Sementara Heni mengatakan jika ia percaya saya akan bisa terus mendampinginya, sebab ia percaya pada kekuatan cinta. Ya, saya percaya pula pada kekuatan cinta. Dan kekuatan cinta itulah yang memotivasi saya untuk melakukan pengorbanan.
Well, sama seperti dulu. Dalam sedih dan khawatir yang memuncak, saya kembali mendengarkan Sekali Ini Saja-nya Glenn Fredly. Lagu itu representatif dengan isi hati saya. Paling menyentuh pada lirik ‘Tuhan bila masih ku diberi kesempatan, izinkan aku untuk mencintainya’ di bagian chorus dan ‘Tak sanggup bila harus jujur, hidup tanpa hembusan nafasnya’. Itu dalam sekali, menyentuh tepat ke dasar hati saya. Persis seperti yang ingin saya ungkapkan padanya.
Andai dia tahu betapa tak menentunya perasaan saya. Betapa ingin saya bisa selalu ada di sisinya, namun situasi dan kesibukan yang menghalangi. Betapa namanya selalu hadir dalam doa-doa saya. Betapa besar kecemasan saya setiap harinya. Ya, terus terang saya senantiasa mencemaskannya. Saya selalu cemas dia akan sakit, terluka, sedih, atau terjadi sesuatu padanya. Saya baru akan tenang setelah memastikan dirinya baik-baik saja. Rasa cemas itu kian menguat setelah beberapa minggu lalu terjadi sesuatu padanya. Saya sungguh tak ingin kehilangannya. Mengetahui dia sakit atau terlukapun sudah menjadi pukulan berat bagi saya. Ingin sekali saya pindahkan semua sakit itu ke tubuh saya sendiri. Biar saya saja yang merasakan, jangan dia. Je t'aime vraiment, Oppa.