Yeah, this is my fifth novel! Foto yang saya upload tadi adalah cover novel saya yang kelima. Sebenarnya, novel ini merupakan serial dari novel sebelumnya yang berjudul I Love You Because Allah. Novel yang...as usual, diambil dari kehidupan real-ku di sekolah berikut serangkaian kegiatan organisasi yang kulakukan.
Setiap novel pasti mengangkat tokoh nyata. Baik itu teman-teman di organisasi, guru favorit, dan banyak lagi orang yang berhasil menginspirasi saya. Dan novel-novel saya nggak akan lengkap kalo nggak dibumbui tema penyakit. Haha...pasti ada aja tokoh yang kena penyakit. Jahat ya saya?
Of course terkadang saya berpikir begitu. Saya ini memang jahat. Suka jadiin tokoh-tokoh novel saya berpenyakit. Nggak cuma satu, tapi dua, tiga, bahkan rekor terakhir saya bisa menyakiti delapan tokoh sekaligus! So, am i cruel and dangerous?
Tapi, bagaimanapun novel saya dan authornya dinilai, baik oleh Mizan Digital Publishing maupun oleh readers, saya mau mengakui satu hal: novel Akan Ada Akhir merupakan novel yang saya tulis dengan penuh perasaan. Saya benar-benar bahagia dan menghayati setiap kata yang saya tuliskan untuk novel ini.
So, bolehlah saya disebut sebagai author yang um...agak jahat. Tapi saya ingin menekankan bahwa saya menulis novel dengan sepenuh hati, jiwa, dan perasaan saya. Semua kata, pemikiran, ideologi, dan cerminan diri saya tertuang sempurna dalam novel ini, juga novel-novel lainnya yang saya hasilkan.
Selasa, 16 Desember 2014
Senin, 15 Desember 2014
Ketinggalan Pesawat? Nyaris saja..
Yang namanya ketinggalan pesawat memang nggak enak. Risiko-risiko yang dihadapi juga perlu dipikirkan saat kita ketinggalan pesawat. Misalnya, harus cari penerbangan lain, budget yang kita keluarkan mesti bertambah dua kali lipat, dan waktu yang terbuang sia-sia. Nggak enak, kan?
Saya sendiri punya pengalaman nyaris ketinggalan pesawat. Ceritanya sekitar bulan Februari lalu saat saya melakukan perjalanan ke Bengkulu dan berencana pulang ke Bandung pada hari Minggu pagi.
Di hotel Madeline, sejak pagi segalanya berjalan lancar. Saya dan Mbak Sara,-kakak pertama saya, bangun pukul lima pagi. Shalat Shubuh, mandi, terus sarapan. Waktu jam menunjukkan pukul 6 pagi, kami siap-siap sarapan. Waktu itu Mbak Sara sempat liat tiket penerbangan kami, juga schedule-nya.
"Dek, inget ya nanti pesawatnya boarding jam sembilan." Begitulah kakak saya mengingatkan.
Saya mengangguk saja, soalnya dapat dipastikan saya akan ingat terus hal sepenting itu. Kamipun mulai sarapan. Selesai breakfast yang comfortable itu, saya dan Mbak Sara kebali ke kamar. Sekali lagi check and rechek barang-barang kami. Ransel, buku-buku, handphone, laptop, dan oleh-oleh, semuanya udah dimasukkin. Siap, tinggal berangkat aja.
Jam setengah sembilan, mulailah terjadi masalah. Beberapa orang teman saya, yang kebetulan orang Palembang dan mau pulang hari itu juga dengan pesawat, ajak saya ngobrol. Mereka minta diajari cara menulis dan membaca huruf Braille. Sebagai gadis ang berjiwa sosial dan open minded, tentunya saya ajari. Toh saya senang bisa berbagi ilmu dengan mereka. Luar biasa, kekuatan hafalan mereka menakjubkan! Dalam waktu relatif singkat mereka bisa membaca dan menulis Braille! Saya amazed dan bertepuk tangan saking senangnya. Inilah kepuasan tersendiri ketika bisa membagi ilmu pada orang lain.
Saya begitu larutnya dalam bahagia hingga tak menyadari betapa cepat waktu berjalan. Di sisi lain, Mbak Sarapun sibuk dengan kegiatannya. Dia malah lagi telepon-teleponan gitu sama temennya yang di Jakarta. Masya Allah, kami sungguh lupa waktu.
Pukul sembilan kurang seperempat, saya dikejutkan oleh seruan tertahan Mbak Sara. "Dek, cepetan dek! Kita harus check out sekarang! Nanti kita ketinggalan pesawat!"
Saya spontan kaget. Alat tulis Braille saya nyaris terjatuh. Buru-buru saya merapikan alat tulis dan kertas yang bertebaran, lalu berlari mendekati kakak saya, kamipun keluar hotel dengan luapan kepanikan.
Tak punya pilihan lain, saya dan Mbak Sara naik bis ke bandara Soekarno-Fatmawati. Udah bisnya jalannya pelaaan banget. Entah berapa speed-nya. Dalam hati saya terus berdoa biar kami nggak ketinggalan pesawat.
Di tengah perjalanan, hal lucu terjadi. Smartphone di tangan Mbak Sara berbunyi. Ternyata oh ternyata...itu SMS dari Mama. Isinya:
"Mbak, udah dimana? Mama, Papa, sama Dek Fondha udah di Soekarno-Hatta airport. Nanti kalian di terminal 1C kan?"
Saya dan Mbak Sara terpana. Antara kaget dan ingin tertawa. OMG! Penerbangan Citilink yang akan kami tumpangi baru tiba di Soeta airport pukul setengah sebelas, tapi seluruh keluarga udah stay di sana sejak pukul sembilan. very very dilligent, right?
Perjalanan yang mendebarkan itu akhirnya selesai. Kami tiba di Soekarno-Fatmawati airport pukul sembilan tepat. Saya dan Mbak Sara langsung marathon ke ruang check in. Nggak peduli diliatin banyak orang, nggak peduli ditanyain sama petugas pake bahasa Bengkulu. Yang penting kami terus lari ke ruang check in.
Entah keberuntungan atau musibah, pintu check in room hampir ditutup! Untungnya petugas maklum dan kami segera check in. Barang-barang diperiksa pake detektor. Beberapa tas dan oleh-oleh dimasukkan ke bagasi. Alhamdulillah, proses check in lancar.
Meski selesai check in, tetap saja saya dan Mbak Sara waswas. Kami marathon lagi ke tempat parkir pesawat. Jaraknya jauh dan harus pake eskalator. Di sela-sela aktivitas berlari, saya dengan innocent-nya masih sempat bertanya.
"Mbak, kira-kira WiFi di sini cepet nggak ya?"
Tentu saja Mbak Sara tertawa dan menjawab, "Kita udah mau boarding, Dek. Kok masih sempet nanya WiFi?"
Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya kami masuk ke pesawat. Nyari tempat duduk, dan akhirnya nemu kursi sesuai nomor yang diberikan pas check in tadi. Alhamdulillah, kami nggak jadi ketinggalan pesawat. Kalo beneran ketinggalan, entah apa yang akan terjadi. Mungkin kami baru balik ke Bandung (ke Jakarta dulu tepatnya, dari sana baru pulang ke Bandung pake mobil pribadi bareng ortu) besok pagi.
Saya sendiri punya pengalaman nyaris ketinggalan pesawat. Ceritanya sekitar bulan Februari lalu saat saya melakukan perjalanan ke Bengkulu dan berencana pulang ke Bandung pada hari Minggu pagi.
Di hotel Madeline, sejak pagi segalanya berjalan lancar. Saya dan Mbak Sara,-kakak pertama saya, bangun pukul lima pagi. Shalat Shubuh, mandi, terus sarapan. Waktu jam menunjukkan pukul 6 pagi, kami siap-siap sarapan. Waktu itu Mbak Sara sempat liat tiket penerbangan kami, juga schedule-nya.
"Dek, inget ya nanti pesawatnya boarding jam sembilan." Begitulah kakak saya mengingatkan.
Saya mengangguk saja, soalnya dapat dipastikan saya akan ingat terus hal sepenting itu. Kamipun mulai sarapan. Selesai breakfast yang comfortable itu, saya dan Mbak Sara kebali ke kamar. Sekali lagi check and rechek barang-barang kami. Ransel, buku-buku, handphone, laptop, dan oleh-oleh, semuanya udah dimasukkin. Siap, tinggal berangkat aja.
Jam setengah sembilan, mulailah terjadi masalah. Beberapa orang teman saya, yang kebetulan orang Palembang dan mau pulang hari itu juga dengan pesawat, ajak saya ngobrol. Mereka minta diajari cara menulis dan membaca huruf Braille. Sebagai gadis ang berjiwa sosial dan open minded, tentunya saya ajari. Toh saya senang bisa berbagi ilmu dengan mereka. Luar biasa, kekuatan hafalan mereka menakjubkan! Dalam waktu relatif singkat mereka bisa membaca dan menulis Braille! Saya amazed dan bertepuk tangan saking senangnya. Inilah kepuasan tersendiri ketika bisa membagi ilmu pada orang lain.
Saya begitu larutnya dalam bahagia hingga tak menyadari betapa cepat waktu berjalan. Di sisi lain, Mbak Sarapun sibuk dengan kegiatannya. Dia malah lagi telepon-teleponan gitu sama temennya yang di Jakarta. Masya Allah, kami sungguh lupa waktu.
Pukul sembilan kurang seperempat, saya dikejutkan oleh seruan tertahan Mbak Sara. "Dek, cepetan dek! Kita harus check out sekarang! Nanti kita ketinggalan pesawat!"
Saya spontan kaget. Alat tulis Braille saya nyaris terjatuh. Buru-buru saya merapikan alat tulis dan kertas yang bertebaran, lalu berlari mendekati kakak saya, kamipun keluar hotel dengan luapan kepanikan.
Tak punya pilihan lain, saya dan Mbak Sara naik bis ke bandara Soekarno-Fatmawati. Udah bisnya jalannya pelaaan banget. Entah berapa speed-nya. Dalam hati saya terus berdoa biar kami nggak ketinggalan pesawat.
Di tengah perjalanan, hal lucu terjadi. Smartphone di tangan Mbak Sara berbunyi. Ternyata oh ternyata...itu SMS dari Mama. Isinya:
"Mbak, udah dimana? Mama, Papa, sama Dek Fondha udah di Soekarno-Hatta airport. Nanti kalian di terminal 1C kan?"
Saya dan Mbak Sara terpana. Antara kaget dan ingin tertawa. OMG! Penerbangan Citilink yang akan kami tumpangi baru tiba di Soeta airport pukul setengah sebelas, tapi seluruh keluarga udah stay di sana sejak pukul sembilan. very very dilligent, right?
Perjalanan yang mendebarkan itu akhirnya selesai. Kami tiba di Soekarno-Fatmawati airport pukul sembilan tepat. Saya dan Mbak Sara langsung marathon ke ruang check in. Nggak peduli diliatin banyak orang, nggak peduli ditanyain sama petugas pake bahasa Bengkulu. Yang penting kami terus lari ke ruang check in.
Entah keberuntungan atau musibah, pintu check in room hampir ditutup! Untungnya petugas maklum dan kami segera check in. Barang-barang diperiksa pake detektor. Beberapa tas dan oleh-oleh dimasukkan ke bagasi. Alhamdulillah, proses check in lancar.
Meski selesai check in, tetap saja saya dan Mbak Sara waswas. Kami marathon lagi ke tempat parkir pesawat. Jaraknya jauh dan harus pake eskalator. Di sela-sela aktivitas berlari, saya dengan innocent-nya masih sempat bertanya.
"Mbak, kira-kira WiFi di sini cepet nggak ya?"
Tentu saja Mbak Sara tertawa dan menjawab, "Kita udah mau boarding, Dek. Kok masih sempet nanya WiFi?"
Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya kami masuk ke pesawat. Nyari tempat duduk, dan akhirnya nemu kursi sesuai nomor yang diberikan pas check in tadi. Alhamdulillah, kami nggak jadi ketinggalan pesawat. Kalo beneran ketinggalan, entah apa yang akan terjadi. Mungkin kami baru balik ke Bandung (ke Jakarta dulu tepatnya, dari sana baru pulang ke Bandung pake mobil pribadi bareng ortu) besok pagi.
Memories of Suna
Sunagakure,
9 p.m.
Gadis
jelita bermata lavender itu mempercepat gerakan tangannya. Membuka lemari,
mengeluarkan satu per satu pakaian. Memasukkannya ke dalam koper hitam yang
berdiri kaku di sudut ruangan. Begitu fokus ia pada kesibukan itu hingga tak
menyadari desir halus angin yang menerobos kisi-kisi jendela memburaikan rambut
indigonya.
Malam
semakin membubung. Langit kelam, bulan menyembunyikan senyumnya di balik
gumpalan transparan awan Cumolonimbus. Langit malam ini bagai merepresentasikan
suasana hati si gadis berambut indigo: Hyuuga Hinata.
Derit
pintu yang terbuka memecah konsentrasinya. Ia meluruskan tubuh, berbalik, dan
langsung bertemu pandang dengan sesosok wanita muda berambut pirang. Kipas
raksasa tergantung di punggungnya. Di belakang sang wanita, nampaklah pemuda
berambut coklat dengan ketiga boneka di tangannya.
“Temari
Nee, Kankurou Nii...” Sapa Hinata lirih.
“Hinata,
kau benar-benar akan pergi?” Tanya Temari. Sinar matanya meredup, menampakkan
ketidakrelaan. “Y-ya, Temari Nee. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”
Sesaat
sunyi. Temari dan adiknya, Kankurou saling pandang. Tak berdaya. Haruskah
mereka menahan Hinata lebih lama di sini? Di tempat yang menyiksa batinnya?
Tempat yang menorehkan sejuta kenangan bersama adik terkecil mereka, yang kini
telah meninggalkan dunia fana?
“Tak
bisakah kau tinggal satu-dua minggu lagi?” Kali ini Kankurou angkat bicara.
Nada memohon tertangkap dalam suaranya.
“Gomen,
Nii-San. Aku tidak bisa. Tugasku sudah selesai, lebih tepatnya sudah gagal.”
Saat mengatakan kalimat terakhir, cairan bening menggenangi pelupuk mata
Hinata. Cepat ia menyekanya. Tidak, ia harus membangun dinding ketegarannya
lebih kuat lagi. “Jangan menyalahkan dirimu, Hinata. Mungkin inilah yang
terbaik untuk Gaara.”
Gaara?
Nama itu sempurna menyayat hati Hinata. Nama yang ingin sekali dilupakannya.
Bukan karena rasa benci, tetapi justru karena cinta. Ia tak ingin berlama-lama
terperangkap dalam kepedihan cinta ini.
“Ooh...sorry
Hinata, sorry. Seharusnya...”
“Tak
apa-apa, Temari Nee. Aku juga mengerti bagaimana perasaan Temari Nee dan
Kankurou Nii sebagai kakak.” Hinata berkata lembut, menepis permintaan maaf
Temari.
Akhirnya,
selesai sudah ia mengemasi barang-barangnya. Hinata mengedarkan pandang ke
sekeliling ruangan serba putih ini. Ruangan yang ditinggalinya setahun
terakhir. Temari dan Kankurou menghela nafas berat. Mungkin memang inilah yang
terbaik.
“Sudah
siap, Hinata? Ayo kami antar sampai ke gerbang Suna,” Ajak Kankurou. “Perlukah
aku meminta Shikamaru-Kun menemanimu pulang ke Konoha? Cuaca buruk sekali, dan
jarak Suna-Konoha tidaklah dekat.” Lanjut Temari.
“Tak
usah, Nee-san. Aku tidak ingin merepotkan Shikamaru.” Tolak Hinata halus.
**
Langkah
ketiga Shinobi muda itu beriringan sepanjang koridor rumah sakit Suna. Hanya
kesunyian yang menemani, tak satupun dari ketiganya bersuara. Kian dekat ke
lobi rumah sakit, kian berat langkah Hinata. Kami-Sama, kuatkanlah aku, doanya
dalam hati. Rumah sakit ini, juga desa Sunagakure, telah menisbikan berjuta
kenangan dalam lubuk hatinya.
Tak
lama, mereka bertiga menyusuri jalan berpasir Sunagakure. Aktivitas penduduk
sudah berakhir. Menyisakan kesenyapan di sepanjang jalan berpasir itu. Angin
terus berembus, dingin dan tajam. Awan-awan Cumolonimbus sempurna menutup
langit. Memblokir indahnya cahaya bulan dan kerlip ratusan bintang.
“Nampaknya
akan terjadi badai.” Gumam Kankurou.
“Sepertinya
begitu. Kau benar-benar tak ingin ditemani siapapun dalam perjalananmu,
Hinata?” Temari memastikan untuk kesekian kali.
Hinata
menghela nafas sabar. “Tak perlu, Nee san. Aku seorang ninja medis, aku pasti
bisa menjaga diri. Walaupun aku...tak bisa menjaga orang yang kucintai dari
kematian.”
Sekali
lagi Kankurou dan Temari berpandangan penuh arti. Hinata rupanya belum bisa melenyapkan
penyesalannya karena gagal menyembuhkan Gaara.
“Hinata,
berapa kali kubilang ini semua bukan kesalahanmu? Seorang Jinchuuriki yang
diambil Bijuu-nya sudah tentu akan meninggal. Siapapun tidak bisa menolongnya,
Hinata. Bahkan dokter sehebat Tsunade sekalipun!”
Hinata
menundukkan wajah. Dalam hati membenarkan perkataan Temari. Ya, sejak Akatsuki
mengambil Shukaku dalam tubuh Gaara, saat itulah tak ada lagi harapan untuknya.
Kalaupun ia bisa bertahan, Gaara hanya akan menjadi mayat hidup seperti setahun
terakhir selama Hinata merawatnya.
Tanpa
terasa mereka tiba di gerbang Sunagakure. Sejenak Temari, Kankurou dan Hinata
berhenti berjalan. Bersiap mengucap kata perpisahan.
“Selamat
tinggal, Hinata. Kuharap kau mau kembali lagi ke sini suatu saat nanti.” Ucap
Temari lembut. Menarik Hinata ke dalam dekapannya.
“Kau
dokter yang hebat. Kembalilah ke Suna jika luka hatimu telah sembuh. Gerbang
desa ini akan selalu terbuka untukmu.” Timpal Kankurou. Mengusap-usap lembut
punggung Hinata.
Tanpa
diduga, kilat menyambar memecah langit. Diikuti hujan yang mengguyur dengan
lebatnya.
“Astaga!
Hinata, sebaiknya kaubatalkan kepulanganmu malam ini. Besok saja kau kembali ke
Konoha. Aku dan Kankurou akan menemanimu.” Seru Temari panik. Buru-buru melepas
pelukkannya.
Hinata
menggelengkan kepala kuat-kuat. Tekadnya sudah bulat. Ia harus pergi malam ini
juga. Bertahan semalam saja di Suna dipastikan meruntuhkan pertahanan hatinya.
Ia mengisyaratkan Temari dan Kankurou segera pergi. Tak punya pilihan,
kakak-beradik Sabaku itu meninggalkan Hinata dalam sepi.
Sejurus
kemudian Hinata menengadah menatap langit gelap yang terus mencurahkan air.
Ganjil, kala Temari dan Kankurou meninggalkannya, kedua kaki Hinata seakan
berat untuk melangkah. Ia bagai terpaku, berat sekali meninggalkan tempat ini.
Sedetik.
Tiga detik. Lima detik, Hinata masih berdiri membeku di tempatnya. Mengabaikan
tamparan dingin hujan yang menghujam wajah cantiknya. Menghiraukan lolong
angin, desis hujan, dan gempita petir. Membiarkan tubuhnya basah kuyup. Ya
Tuhan, kenangan tentang Suna, dan Kazekage-nya yang telah pergi seakan
menahannya di sini. Hinata benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Gaara...aku
tak bisa, Gaara. Benar-benar tak bisa...” Hinata setengah terisak. Ia bicara
seolah Gaara berada di sampingnya, mendengar apa yang ia ucapkan.
“Gaara...kau
dan desa ini telah menyatu dengan hatiku.”
Memilukan,
inilah yang dinamakan cinta sejati. Cinta Hinata yang begitu tulus dan murni
untuk Gaara. Hingga Sunagakure beserta kenangan-kenangannya telah bersatu
dengan hatinya.
Di
tengah keputusasaan yang mendera, Hinata merasakan pelukan hangat dari
belakang. Ia tak berani bergerak, takut semua ini sebatas halusinasi. Tidak,
mustahil yang memeluknya adalah Gaara. Kecuali ada orang yang bisa melakukan
Edo-Tensei dan berbaik hati menghidupkan sang Godaime Kazekage.
“Gaara...?”
Tanpa sadar, sepotong nama itu terlontar dari bibirnya.
“Aku
bukan Gaara. Tapi aku tahu kau membutuhkanku, Hinata.” Suara itu...suara itu
sangat familiar!
Refleks
Hinata memalingkan tatapan. Sepasang mata lavender pucat balas memandangnya.
Hati gadis itu bergetar hebat.
“Neji?
Neji Nii-san?”
“Ya,
aku di sini untukmu. Ayo kita pulang ke Konoha, Hinata. Semuanya sudah
menunggumu. Naruto, Sakura, Sasuke, Kiba, Ino, Sai, Chouji, Shino, Hanabi,
Tou-san, dan yang lainnya menantimu kembali. Bangkitlah, adikku. Bangkitlah
dari kesedihanmu. Gaara pasti takkan suka melihatmu begini.”
Hinata
perlahan-lahan meresapi ucapan Neji. Tentu saja, Gaara sendiri takkan suka
melihat gadis yang dicintainya berduka terlalu lama. Akhirnya, Hinata menyapu
air mata. Melepas pelukan Neji dan berkata dengan tegar.
“Baik,
aku akan kembali ke Konoha. Namun kumohon Neji, jangan halangi aku setiap kali
aku ingin pergi ke Suna. Kau tahu? Sunagakure adalah rumah keduaku. Semua
kenangan tentangnya, juga tentang pemimpinnya, akan selamanya terpatri dalam
ingatanku.”
“Siapapun,
termasuk aku, takkan pernah menghalangimu kembali ke Suna. Aku justru akan
selalu menemanimu setiap kali kau kemari. Jangan khawatir, Hinata.”
Dan
beginilah akhirnya. Hinata kembali ke Konoha bersama Neji. Meskipun demikian,
sebagian hati dan jiwanya tetap bertahan di satu tempat: Sunagakure.
Introduction
Langganan:
Postingan (Atom)


